GORONTALO — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan betapa timpangnya persaingan di segmen mobil listrik. Dari 69.739 unit distribusi wholesales BEV sepanjang semester pertama 2026, merek-merek Jepang nyaris tidak terlihat. Toyota bZ4X tercatat 51 unit, Honda E sebanyak 54 unit, Suzuki e Vitara 13 unit, dan Toyota Urban Cruiser hanya 1 unit. Sementara Nissan Leaf nihil penjualan.
Tren ini berbanding terbalik dengan penguasaan pasar hybrid yang masih kuat dipegang pabrikan Jepang. Toyota dan Suzuki misalnya, tampak lebih memilih fokus pada teknologi hybrid ketimbang langsung beralih ke BEV secara agresif.
Salah satu faktor utama minimnya serapan adalah harga. Toyota bZ4X misalnya, dipasarkan di segmen premium dengan banderol mendekati Rp 1 miliar. Padahal, pabrikan China mampu menawarkan SUV listrik dengan spesifikasi lebih tinggi, fitur melimpah, dan jarak tempuh jauh di rentang Rp 200–600 jutaan.
Pilihan model yang terbatas juga menjadi kelemahan. Merek Jepang hanya punya segelintir varian BEV di Indonesia. Sementara pabrikan China membanjiri pasar dengan berbagai lini: dari city car mungil, SUV perkotaan, hingga MPV mewah.
Keputusan Toyota dan Suzuki untuk tidak terburu-buru di BEV bukan tanpa alasan. Pasar hybrid di Indonesia masih dikuasai merek Jepang. Strategi ini membuat mereka tetap mendominasi segmen kendaraan elektrifikasi secara volume, meski di sisi lain posisi mereka di pasar BEV murni sangat lemah.
Data Gaikindo mengonfirmasi bahwa lonjakan penjualan BEV nasional sebesar 80,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu hampir seluruhnya disumbang merek China. Tanpa perubahan strategi harga dan model yang lebih agresif, posisi Jepang di segmen ini diprediksi akan terus tergerus.