JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto secara langsung memimpin seremoni groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela dari Istana Merdeka, Jakarta. Proyek yang dikembangkan oleh INPEX Masela Ltd. bersama Pertamina dan Petronas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun.
Presiden menekankan proyek ini bukan sekadar investasi biasa, melainkan bagian dari transformasi bangsa menuju negara industri modern. "Kita perlu energi ini untuk melaksanakan transformasi bangsa. Kita ingin menjadi negara yang produktif," ujar Prabowo dalam sambutannya.
Fasilitas ini dirancang mampu menyalurkan gas pipa domestik sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari. Pemerintah memproyeksikan kilang ini akan menjadi pusat industri energi terbesar di Indonesia timur.
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan kepastian kepada investor asing, khususnya INPEX Corporation dari Jepang. "Para investor harus untung. Sekali lagi, sebagai bangsa yang punya harga diri dan kehormatan, kita malu kalau mitra kita tidak puas," tegasnya.
Meski demikian, Prabowo juga mengingatkan tanggung jawab negara terhadap rakyat Indonesia yang masih menghadapi kesulitan ekonomi. Energi dari proyek ini dinilai krusial untuk memperkuat pengembangan industri nasional dan mendorong pemerataan pembangunan hingga kawasan timur Indonesia.
Hingga awal Juli 2026, progres Front End Engineering Design (FEED) proyek ini telah mencapai 79,56 persen, melampaui target yang ditetapkan. Penyelesaian berbagai perizinan strategis dan desain fasilitas utama terus berjalan menuju Final Investment Decision (FID) pada akhir 2026.
Groundbreaking ini dihadiri langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dan CEO INPEX Takayuki Ueda di lokasi proyek. Sementara itu, Presiden didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dari Istana Merdeka.
LNG Abadi Masela menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak tahap pengembangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung transisi energi nasional sekaligus menjaga komitmen lingkungan.
Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini diharapkan mendorong tumbuhnya industri pendukung, memperluas peluang usaha bagi UMKM, serta membuka lapangan kerja dengan mengutamakan tenaga kerja lokal dari Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.