GORONTALO — Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menyebut pencapaian ini sebagai bukti nyata efektivitas diplomasi publik berbasis kebudayaan. "Angklung yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia bukan hanya memiliki nilai artistik tetapi juga mengandung filosofi gotong royong, toleransi, dan kebersamaan," ujarnya dalam keterangan resmi KBRI Tokyo, Senin (15/7).
UPI memberikan hibah satu set angklung kepada Gifu Special Needs School dalam acara penyerahan yang digelar secara daring pada 6 Juli 2026. Acara ini dihadiri langsung oleh perwakilan KBRI Tokyo, Rektor UPI Didi Sukyadi, serta jajaran pengurus sekolah dan dinas pendidikan setempat.
Menurut Rektor Didi Sukyadi, pihaknya menargetkan angklung tidak hanya berhenti di jenjang SMA. "Di masa depan, saya percaya angklung akan dimasukkan ke dalam kurikulum musik untuk siswa kelas satu SMA, siswa SMP, dan siswa sekolah dasar. Suara angklung akan terdengar dari semua sekolah kebutuhan khusus di Prefektur Gifu," jelasnya.
Kepala Gifu Special Needs School, Sachi Sumi, mengungkapkan antusiasme para siswa terhadap alat musik tradisional asal Jawa Barat itu. "Anak-anak sangat menikmati pembelajaran menggunakan angklung. Instrumen ini mudah dimainkan, membantu mereka memahami ritme, dan memungkinkan seluruh siswa bermain musik bersama," katanya.
Assistant Professor Yoshitaka Suzuki dari Gifu University menambahkan bahwa angklung menjadi solusi atas tantangan pengajaran musik di pendidikan luar biasa. "Anak berkebutuhan khusus terkadang mengalami kesulitan dalam memainkan alat musik yang kompleks. Saya percaya angklung adalah instrumen inklusif," ujarnya. Ia berkomitmen memperluas penggunaan angklung ke lebih banyak sekolah luar biasa di Jepang.
Kerja sama ini merupakan hasil jejaring yang dibangun antara UPI, Gifu University, Gifu City Board of Education, dan alumni Unit Kegiatan Mahasiswa Keluarga Besar Bumi Siliwangi (UKM KABUMI) UPI, Ardian Sumarwan. Frekuensi pelatihan angklung meningkat signifikan: satu kali pada 2022, tiga kali pada 2023, lima kali pada 2024, dan delapan kali sepanjang 2025.
Salah satu capaian penting terjadi pada 2025, saat materi pembelajaran angklung disampaikan di hadapan lebih dari 500 guru sekolah berkebutuhan khusus dari tujuh prefektur di Jepang. Memasuki 2026, tim pelatih UPI turut berpartisipasi dalam festival budaya dan pertunjukan internasional di Gifu, Toyota, dan Nagoya.
Dubes Kartini menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi pilar utama penguatan citra positif Indonesia menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada 2028. "Penggunaan angklung dalam pendidikan inklusif menjadi contoh nyata bagaimana kebudayaan mampu menjadi media pembelajaran karakter sekaligus mempererat hubungan antarbangsa," tandasnya.
Yukihiro Saitoh dari Gifu City Board of Education menilai angklung bukan sekadar media pembelajaran musik, melainkan juga media pembelajaran karakter. Filosofi alat musik yang hanya berbunyi indah saat digoyangkan bersama-sama, menurut Rektor UPI, menumbuhkan inklusivitas dan harmoni dalam keberagaman—semangat yang sejalan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.