GORONTALO — Pelemahan rupiah pada hari ini memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak pekan lalu. Posisi Rp17.813 merupakan level terendah dalam beberapa bulan terakhir, mendekati titik psikologis Rp18.000 yang diwaspadai pelaku pasar.
Tekanan utama terhadap rupiah datang dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kompak menanjak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda. Bagi Indonesia yang masih menjadi importir minyak neto, kenaikan ini berarti beban impor membengkak dan kebutuhan dolar untuk pembelian energi ikut melonjak.
“Kenaikan harga minyak secara langsung meningkatkan permintaan dolar dari korporasi, terutama perusahaan energi dan manufaktur,” ujar analis pasar uang dari salah satu bank asing di Jakarta, dalam riset hariannya. Situasi ini membuat pasokan valas di pasar domestik semakin ketat.
Selain faktor domestik, penguatan dolar AS di pasar global turut memperburuk posisi rupiah. Indeks dolar AS (DXY) bergerak di level tinggi setelah data ekonomi Amerika Serikat terbaru menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Akibatnya, hampir seluruh mata uang Asia terdepresiasi, dengan rupiah menjadi salah satu yang paling terpukul.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif dengan rentang yang lebar. Pelaku pasar cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi AS yang dijadwalkan akhir pekan ini, yang bisa menjadi petunjuk arah suku bunga global selanjutnya.
Dari pasar saham, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) yang menambah tekanan terhadap nilai tukar. Aliran modal keluar dari pasar obligasi dan saham membuat permintaan terhadap dolar semakin tinggi. Posisi rupiah saat ini dinilai masih rapuh dan sangat bergantung pada pergerakan harga energi serta kebijakan bank sentral.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan harga minyak dan data ekonomi AS sebagai acuan pergerakan rupiah ke depan.