GORONTALO — Ribuan petani di Kabupaten Gorontalo kini menghadapi ujian berat. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sawah-sawah yang biasanya hijau berubah menjadi lahan kering dan retak. Banyak tanaman pertanian dilaporkan mengalami gagal panen, mengancam kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil bumi.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengambil langkah spiritual dengan menggelar salat istisqa. Berdasarkan Surat Pemberitahuan Nomor 400/878/Bag.Kesra, ibadah ini akan dilaksanakan secara serentak di masing-masing kecamatan pada Jumat, 31 Juli 2026.
Bagi masyarakat setempat, salat istisqa bukanlah sekadar ritual tahunan. Ibadah ini menjadi pengakuan bahwa di balik seluruh kemampuan manusia dalam membangun irigasi dan mengembangkan teknologi pertanian, tetap ada kuasa Sang Pencipta yang tidak bisa digantikan.
Kemarau panjang ini mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bendungan boleh saja dibangun, dan teknologi pertanian boleh dikembangkan. Namun, ketika langit enggan menurunkan hujan dalam waktu lama, semua ikhtiar teknis terasa belum cukup.
Momentum salat istisqa menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan merupakan perpaduan antara ikhtiar dan doa. Bekerja keras adalah kewajiban, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Bagi para petani, hujan adalah kehidupan yang menghidupkan kembali sawah, ladang, dan kebun yang mulai mengering. Setiap tetesnya membawa harapan akan panen yang lebih baik serta keberlangsungan ekonomi keluarga.
Di sisi lain, kemarau berkepanjangan juga menjadi pengingat agar manusia lebih bijaksana dalam memperlakukan lingkungan. Menjaga hutan, melestarikan sumber mata air, menggunakan air secara hemat, serta tidak merusak ekosistem merupakan tanggung jawab bersama. Alam yang terjaga akan memberikan manfaat bagi kehidupan, sedangkan kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko bencana, termasuk kekeringan.
Pelaksanaan salat istisqa secara serentak di seluruh kecamatan di Kabupaten Gorontalo diharapkan menjadi doa bersama yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat. Dalam kebersamaan itu, tidak ada perbedaan kedudukan sosial, jabatan, maupun profesi. Semua berdiri sejajar sebagai hamba yang memohon rahmat dan pertolongan.
Peristiwa ini mengandung pelajaran berharga. Ketika alam memberikan ujian, manusia belajar tentang kerendahan hati. Ketika hasil panen menurun, manusia belajar tentang kesabaran. Ketika hujan tak kunjung turun, manusia menyadari bahwa kehidupan tidak hanya bergantung pada kekuatan tangan, tetapi juga pada rahmat Tuhan.
Kemarau mungkin akan berlalu, dan hujan pada akhirnya akan kembali membasahi bumi Gorontalo. Namun, nilai yang seharusnya tetap tertanam adalah kesadaran bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam yang harus menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Di tengah keterbatasan itulah, doa, ikhtiar, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bekal untuk menjaga keberlangsungan kehidupan serta kesejahteraan bersama.