Tim IMTI Kemenparekraf Nilai Gorontalo Calon Kuat Destinasi Wisata Ramah Muslim, Tradisi Walima hingga Mopotilolo Jadi Andalan

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 05 September 2026 | 11:16:31 WIB
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menerima Tim Penilai IMTI Kemenparekraf RI dalam jamuan makan malam di Aula Rumah Jabatan Wagub, Jumat (4/9/2026) malam.

GORONTALO — Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menerima langsung kedatangan Tim Penilai IMTI Kemenparekraf RI dalam jamuan makan malam di Aula Rumah Jabatan Wagub, Jumat (4/9/2026) malam. Kedatangan tim tersebut menjadi momen penting bagi pemerintah daerah untuk mempromosikan potensi wisata berbasis syariah yang selama ini tumbuh dari akar budaya masyarakat.

Idah mengungkapkan optimismenya terhadap peningkatan peringkat daerahnya dalam pemeringkatan nasional. Sebelumnya, Gorontalo berhasil naik dari posisi 13 ke peringkat 11, dan kini menargetkan bisa menembus jajaran 10 besar.

“Dulu peringkat 13, terakhir sudah peringkat 11. Kami berharap pada tahun ini bisa masuk 10 besar,” ujar Idah di hadapan tim penilai.

Falsafah Adat dan Syara' Jadi Modal Dasar

Kekuatan utama Gorontalo dinilai tidak hanya bertumpu pada bentang alam atau destinasi buatan. Justru falsafah hidup masyarakat yang berpijak pada “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah” menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan muslim.

Falsafah tersebut tercermin dalam berbagai tradisi yang hingga kini masih dipertahankan dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat di daerah berjuluk Serambi Madinah itu.

Desa Religi Bongo dan Tradisi Walima

Idah menyebutkan, momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang sedang berlangsung saat ini menjadi waktu yang tepat bagi tim penilai untuk menyaksikan langsung geliat wisata religi di Gorontalo. Ia mengarahkan tim untuk mengunjungi desa religi yang berada di Bongo, Kabupaten Gorontalo.

“Di sana akan ditemukan tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan dan dipertahankan masyarakat Provinsi Gorontalo,” jelasnya.

Salah satu yang menjadi andalan adalah tradisi Walima, sebuah perayaan yang digelar masyarakat dalam momentum peringatan Maulid Nabi. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga telah berkembang menjadi atraksi budaya yang menarik kunjungan wisatawan.

Lebaran Ketupat dan Tradisi Mopotilolo

Potensi lain yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah tradisi Lebaran Ketupat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Momen ini dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena masyarakat secara sukarela membuka rumah bagi siapa saja untuk menikmati hidangan khas daerah.

Selain itu, Idah juga memperkenalkan Mopotilolo, upacara adat yang khusus digelar untuk menyambut tamu kehormatan yang baru pertama kali berkunjung. Keunikan tradisi ini terletak pada pemberian sedekah wajib kepada tamu sebagai simbol doa dan keselamatan.

“Beberapa bulan lalu ketika kami menggelar upacara adat Mopotilolo untuk menyambut Presiden RI Bapak Prabowo Subianto. Saya sendiri menyampaikan kepada Pak Presiden untuk menerima sedekah itu, dengan artian secara adat sebagai simbol keselamatan bagi Pak Presiden,” tuturnya.

Potensi Wisata Tak Hanya soal Destinasi

Idah menegaskan bahwa pengembangan wisata ramah muslim di Gorontalo tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Adat, budaya, dan tradisi religi yang masih hidup menjadi bukti bahwa keramahan terhadap wisatawan muslim bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan sudah menjadi karakter dasar masyarakat.

“Bicara soal muslim atau religinya Gorontalo, masih sangat banyak. Maka dari itu, kami sangat bangga dan menyambut baik kehadiran tim penilai dari Kemenparekraf RI,” pungkasnya.

Ia berharap masukan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan positif bagi tim penilai dalam menentukan pemeringkatan IMTI tahun ini.

Reporter: Sutomo
Sumber: berita.gorontaloprov.go.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top