Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS, Harga Bahan Bakar Cetak Rekor

Penulis: Fajar  •  Rabu, 23 September 2026 | 08:35:31 WIB
Presiden AS Donald Trump mendukung rencana pelarangan ekspor solar setelah harga bahan bakar mencapai rekor tertinggi.

GORONTALO — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung rencana pelarangan ekspor solar Negeri Paman Sam setelah harga bahan bakar itu melonjak ke rekor tertinggi. Usulan tersebut juga didorong sejumlah kandidat Partai Republik yang tengah berkampanye menjelang pemilu paruh waktu. Menteri Keuangan Scott Bessent mengaku pemerintah sedang mengkaji apakah pembatasan akan diberlakukan penuh atau hanya sebagian.

Lonjakan harga solar di Amerika Serikat dan Eropa terjadi setelah perang di Iran dan Ukraina memangkas tajam pasokan dari sejumlah produsen utama dunia. Rusia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab termasuk negara yang ekspornya terpangkas signifikan akibat konflik berkepanjangan tersebut.

Trump menyatakan sudah menyerukan penghentian pengiriman solar ke luar negeri sejak awal. Menurutnya, produksi solar dalam negeri AS cukup besar sehingga tidak perlu diekspor saat harga di dalam negeri sedang tinggi.

"Saya sudah mengatakan, jangan kirim solar ke luar. Kami memproduksi banyak solar. Saya sudah menyerukan itu. Saya sudah menyampaikannya kepada orang-orang saya," ujar Trump, dikutip dari Reuters.

Kajian Pemerintah: Larangan Penuh atau Sebagian?

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah tengah menimbang dua opsi pembatasan ekspor solar. Opsi pertama adalah larangan penuh, sementara opsi kedua hanya membatasi sebagian volume ekspor.

Belum ada keputusan resmi soal mana yang akan dipilih. Kajian ini berjalan di tengah tekanan politik yang meningkat menjelang pemilu paruh waktu, di mana harga pangan dan kebutuhan pokok menjadi isu utama bagi pemilih.

Dorongan dari Kandidat Partai Republik

Sejumlah kandidat Partai Republik yang menghadapi persaingan ketat memperebutkan kursi Kongres ikut mendesak pembatasan ekspor. Mereka antara lain Senator Dan Sullivan dari Alaska, anggota DPR Ashley Hinson dari Iowa, serta Mike Rogers dari Michigan.

Sullivan menilai harga solar sudah terlalu tinggi dan meminta ekspor dihentikan sementara. Menurutnya, langkah itu bisa membantu AS menambah kembali cadangan diesel menjelang musim dingin sekaligus memprioritaskan kebutuhan masyarakat dalam negeri.

"Bahan bakar Amerika harus tetap berada di dalam negeri untuk rakyat Amerika," kata Sullivan dalam pernyataannya.

Hinson dan Rogers sebelumnya juga menyerukan agar perang di Iran segera diakhiri. Sikap itu berbeda dengan posisi Trump yang justru mendukung larangan ekspor sebagai respons atas lonjakan harga.

Tekanan dari Sektor Pertanian

Departemen Pertanian AS pekan lalu mendesak Gedung Putih segera mengambil langkah merespons tingginya harga solar. Menteri Pertanian Brooke Rollins mengaku telah membicarakan masalah itu langsung dengan Trump.

Rollins menyebut lonjakan harga solar sebagai persoalan serius yang berdampak pada biaya operasional sektor pertanian. Petani di AS sangat bergantung pada diesel untuk mengoperasikan mesin dan mengangkut hasil panen.

Bagi pelaku pasar energi, kebijakan ini berpotensi mengubah arah arus perdagangan solar global. Jika AS benar-benar membatasi ekspor, negara-negara pengimpor di Eropa dan Asia harus mencari sumber pasokan alternatif di tengah kondisi pasokan yang sudah ketat.

Harga solar di pasar internasional diperkirakan tetap volatile sampai ada keputusan resmi dari Gedung Putih. Pelaku bisnis di sektor logistik dan transportasi perlu mencermati perkembangan ini karena biaya bahan bakar menjadi komponen utama struktur pengeluaran mereka.

Reporter: Fajar
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top