GORONTALO — Gelandang Lazio Luciano Re Cecconi tewas ditembak pemilik toko perhiasan di Roma pada 18 Januari 1977 setelah berpura-pura merampok sebagai lelucon. Pria yang dikenal sebagai l'Angelo Biondo itu meninggal di usia 28 tahun, hanya 47 hari setelah mengantar jenazah pelatih Tommaso Maestrelli.
Insiden nahas itu terjadi di sebuah toko perhiasan di Via Flaminia Vecchia, Roma. Re Cecconi datang bersama rekan setimnya, Pietro Ghedin, dan seorang kawan, Giorgio Fraticcioli, ke tempat Bruno Tabocchini, pemilik toko yang sudah mereka kenal baik.
Fraticcioli masuk lebih dulu untuk mengantar botol parfum. Menunggu di luar, Re Cecconi dan Ghedin bertukar pandang usil. Mereka lantas menutupi wajah dengan kerah jaket, memasukkan tangan ke saku seolah menggenggam pistol, lalu menerobos masuk sambil berteriak dalam bahasa Italia, "Mani in alto! Questa e una rapina!" yang berarti "Angkat tangan! Ini perampokan!"
Tabocchini tidak tahu bahwa itu hanya lelucon. Tokonya pernah dirampok sebelumnya. Ia pun menyimpan pistol di bawah meja kasir dan langsung meraihnya begitu dua pria bertopeng menerobos masuk.
Ghedin refleks mengangkat tangan. Re Cecconi tetap melanjutkan aksinya. Tabocchini yang gemetar tidak ragu menembak. Peluru menghantam dada Re Cecconi dari jarak dekat.
Saat tersungkur di lantai, ia sempat berbisik, "Era uno scherzo... solo uno scherzo." Artinya, "Itu cuma lelucon... hanya lelucon." Nyawanya tidak tertolong. Re Cecconi mengembuskan napas terakhir 30 menit kemudian di Rumah Sakit San Giacomo, Roma.
Re Cecconi lahir Desember 1948 di Nerviano, kota kecil 16 kilometer barat laut Milan. Nama belakangnya berasal dari kebiasaan Raja Victor Emmanuel II yang mengizinkan warga memakai embel-embel "Re" alias "Raja" sebagai bentuk terima kasih setelah Pertempuran Magenta 1859.
Kehidupan awalnya jauh dari kesan bangsawan. Ia tumbuh di keluarga pekerja dan sempat bekerja di toko kelontong, bengkel sepatu, hingga bengkel logam sebelum menekuni sepak bola secara serius.
Setelah mencuri perhatian di Pro Patria, ia direkrut Maestrelli ke Foggia, lalu dibawa ke Lazio pada 1972. Di sana ia masuk ke ruang ganti paling kacau dalam sejarah sepak bola Italia, terbelah dua faksi yang saling bermusuhan.
Satu kubu dipimpin Giorgio Chinaglia, sosok flamboyan yang gemar mobil cepat, setelan mencolok, dan provokasi politik. Kubu ini dikenal membawa pistol ke mana-mana, bahkan menembak burung dari jendela hotel saat bosan di laga tandang.
Re Cecconi tidak pernah membawa senjata. Ia salah satu "orang utara" yang lebih pendiam, akrab disapa Cecco, dan selalu bersama sahabatnya Luigi Martini. Keduanya dijuluki "si kembar" karena tak terpisahkan.
Di bawah Maestrelli, Lazio menorehkan salah satu gelar paling luar biasa dalam sejarah Serie A. Musim 1973-74, klub ibu kota itu meraih Scudetto pertamanya meski ruang ganti kerap panas.
Chinaglia mencetak 24 gol liga, termasuk penalti penentu melawan Foggia. Kiper Felice Pulici tampil gemilang, sementara kapten Giuseppe Wilson mengawal lini belakang.
Di tengah lapangan, Re Cecconi menjadi perekat. Ia menempuh jarak luar biasa, memenangi tekel, dan menginisiasi serangan. Ia bukan bintang, tapi tak tergantikan.
"Maestrelli menyatukan pemain-pemain yang nyaris tak dikenal atau berpedigree terbatas dan memberi mereka gagasan sepak bola yang saat itu tak dimiliki orang lain di Italia," kata Simon Basten dari blog Lazio Stories.
Lazio kala itu bermain seperti tim Belanda di awal 1970-an. Tontonannya menyenangkan. Maestrelli, yang pernah berjuang di gerakan anti-fasis pada Perang Dunia II, memperlakukan pemain seperti anak sendiri.
Karier internasional Re Cecconi hanya dua caps. Ia masuk skuad Italia untuk Piala Dunia 1974, tapi tidak memainkan satu menit pun di turnamen yang berakhir bencana bagi Azzurri.
Setelah Valcareggi digantikan Fulvio Bernardini lalu Enzo Bearzot, persaingan di lini tengah makin berat. Nama Marco Tardelli, Giancarlo Antognoni, dan Romeo Benetti menutup jalan Re Cecconi.
Lazio 1975 ditinggalkan Maestrelli yang divonis kanker. Desember 1976, sang pelatih meninggal di usia 54 tahun. Re Cecconi ikut mengangkat peti jenazahnya, begitu pula Chinaglia yang terbang dari New York Cosmos.
Hanya 47 hari berselang, Re Cecconi menyusul. Italia syok. Tuttosport mencetak judul besar, "RE CECCONI UCCISO" atau "Re Cecconi Dibunuh".
Kasus ini cepat masuk pengadilan. Hakim Severino Santiapichi, yang kelak mengadili Mehmet Ali Agca penembak Paus Yohanes Paulus II, memutuskan insiden itu sebagai "kecelakaan yang tidak menguntungkan". Tabocchini dibebaskan dari tanggung jawab pidana.
Keputusan itu jadi salah satu tragedi olahraga paling diperdebatkan di Italia. Banyak penggemar tak pernah memaafkan Tabocchini. Sebagian lain menilai ia bertindak karena ketakutan di tengah era "years of lead" yang penuh kekerasan.
Stefano, anak Re Cecconi yang baru berusia dua tahun saat ayahnya tewas, lama mempertanyakan versi resmi peristiwa itu. Pada 2008 ia menerbitkan buku berjudul "Lui Era Mia Papa" atau "Dia Ayahku", berusaha meluruskan sejumlah kejanggalan dan mengubah citra ayahnya dari pelaku lelucon menjadi pria serius yang dedikasi pada keluarga dan profesinya.
Re Cecconi meninggalkan seorang istri dan dua anak. Kini namanya diabadikan pada jalan di taman Roma, sebuah stadion di Nerviano, dan bendera raksasa bergambar wajahnya yang selalu hadir di Curva Nord Stadio Olimpico setiap laga kandang Lazio.
Di Cimitero di Nerviano, batu nisannya sederhana namun menyentuh. Tertulis: "Luciano Re Cecconi: Footballer, 1948-1977."