GORONTALO — Kepala Lapas Kelas IIA Gorontalo, Junaidi Rison, menyebut panen perdana ini sebagai bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan pemerintah sekaligus menjalankan program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Tanaman yang dibudidayakan di greenhouse tersebut baru berusia sekitar 25 hari sejak masa tanam.
Dalam satu greenhouse berukuran terbatas, warga binaan berhasil membudidayakan tiga jenis tanaman sekaligus: selada, timun, dan melon. Junaidi menilai kualitas hasil panen tergolong baik, bahkan dapat dikategorikan premium.
Hasil panen tidak berhenti sebagai kegiatan pembinaan semata. Sebagian produk yang dihasilkan warga binaan dipasarkan kepada pihak ketiga atau vendor yang menyediakan bahan makanan bagi penghuni lapas.
Menurut Junaidi, sekitar seperlima hasil panen akan dijual kepada vendor tersebut. Dengan begitu, warga binaan tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mulai mengenal bagaimana hasil kerja mereka memiliki nilai ekonomi.
"Ini merupakan panen perdana dari kegiatan warga binaan di dalam Lapas Gorontalo untuk menunjang ketahanan pangan," kata Junaidi.
Program ini juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk berbagi pengetahuan. Junaidi mengatakan pihak lapas berusaha memanfaatkan keterampilan yang sebelumnya telah dimiliki sejumlah warga binaan sebelum mereka menjalani masa pidana.
"Sebelum mereka masuk ke dalam lapas, mereka memang sudah memiliki ilmu dalam hal ketahanan pangan. Jadi kita manfaatkan, kita tularkan kepada warga binaan yang lain," ujarnya.
Panen kali ini melibatkan ibu-ibu Dharma Wanita Lapas Kelas IIA Gorontalo. Keterlibatan tersebut diharapkan menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan kegiatan positif yang mendukung program ketahanan pangan.
Program greenhouse tidak berhenti pada satu unit yang ada saat ini. Lapas Kelas IIA Gorontalo telah menyiapkan rencana pengembangan dengan memanfaatkan lahan di bagian depan lapas.
Junaidi mengatakan pihaknya berencana mengembangkan kawasan tersebut menjadi agrowisata yang menggabungkan kegiatan pertanian dengan ruang edukasi dan wisata. Sayuran dan buah-buahan akan menjadi bagian dari pengembangan kawasan itu.
Harapannya, keterampilan yang didapat warga binaan selama berada di lapas tidak berhenti ketika pintu lapas terbuka. Bekal tersebut diharapkan bisa menjadi modal untuk berkarya dan membantu kehidupan keluarga setelah mereka kembali ke masyarakat.
"Kita berusaha supaya mereka bisa memacu untuk berkarya, kemudian bisa menghasilkan untuk keluarga mereka nantinya," kata Junaidi.