Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut empat kemampuan yang wajib dimiliki pemimpin kesehatan masa depan, yakni integritas, kemampuan komunikasi, storytelling, dan eksekusi. Empat kemampuan itu disampaikannya dalam Health Leadership Course yang digelar Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara Asia Tenggara. Pelatihan lima hari itu menyoroti tata kelola, pembiayaan kesehatan, hingga kesiapsiagaan pandemi.
JAKARTA — Health Leadership Course yang digelar ADB menyoroti kapasitas kepemimpinan sebagai kunci reformasi sistem kesehatan di Asia Tenggara. Peserta datang dari tujuh negara dengan total lebih dari 60 orang. Agenda ini berlangsung selama lima hari.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menempatkan integritas sebagai fondasi utama. Ia merujuk pengalaman pribadinya soal sosok atasan yang paling ia hormati.
"Pertama, atasan terbaik yang pernah saya temui adalah seseorang yang memiliki integritas. Untuk memastikan bahwa dia tidak akan membohongi Anda atau negara Anda, dia harus menjadi pribadi yang berintegritas," ujar Budi.
Kemampuan kedua adalah menyampaikan tujuan secara sederhana. Menurut Budi, pemimpin harus memastikan seluruh anggota organisasi memahami arah yang dituju tanpa kebingungan.
"Sebagai pemimpin, Anda harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan tujuan Anda secara jelas dan sederhana agar semua orang dapat memahaminya," katanya.
Kemampuan ketiga adalah storytelling atau bercerita. Budi menilai pemimpin perlu mampu menjelaskan mengapa, bagaimana, dan apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan.
Kemampuan keempat adalah eksekusi. Target dan rencana, kata Budi, tidak berarti apa-apa tanpa kemampuan mewujudkannya di lapangan.
"Jika Anda hanya berbicara dan memiliki target tetapi tidak menunjukkan cara mengeksekusi dan mencapainya, Anda akan kehilangan kredibilitas di depan anggota Anda," ujarnya.
Kementerian Kesehatan menjalankan agenda reformasi melalui enam pilar: layanan primer, layanan sekunder atau rumah sakit, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta teknologi kesehatan. Keenam pilar itu diarahkan pada peningkatan angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat.
Salah satu contoh penguatan layanan primer adalah pengadaan 10 ribu USG dan 10 ribu X-ray dengan dukungan pembiayaan ADB.
Director Human and Social Development Sector Office ADB, Eduardo Banzon, menegaskan posisi bank pembangunan itu bukan sebagai pihak yang mendikte negara anggota.
"Kami bukanlah jenis institusi yang datang dan mendikte suatu negara untuk 'lakukan ini' atau 'lakukan itu'. Peran utama kami adalah membantu pembiayaan dan memberikan dukungan teknis untuk hal-hal yang telah diputuskan oleh negara tersebut," ujar Eduardo.
Menurut Eduardo, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi bagian penting menghadapi perubahan dan reformasi kesehatan yang terus berkembang. Kerja sama antarnegara diperlukan untuk memperkuat reformasi itu.
Country Director Indonesia Resident Mission ADB Bobur Alimov menyebut sejumlah tantangan kesehatan di Asia Tenggara. Mulai dari populasi yang semakin menua, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
"Tidak ada satu pun dari tantangan ini yang dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, maupun oleh satu negara saja. Ini membutuhkan para pemimpin untuk bekerja lintas sektor dan lintas negara, membangun kemitraan, serta mengarahkan perubahan," ujar Bobur.
Bobur menilai pelaksanaan Health Leadership Course di Indonesia menjadi kesempatan bertukar pengalaman. Indonesia tengah menjalankan transformasi kesehatan melalui penguatan layanan kesehatan primer, perluasan kesehatan digital lewat SATUSEHAT, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Pengalaman Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua," kata Bobur.
Selama lima hari, peserta membahas tata kelola, penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, perubahan iklim dan One Health, pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi, serta kesehatan digital dan inovasi. Peserta juga dijadwalkan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan sejumlah fasilitas kesehatan primer di Jakarta.