GORONTALO — Google Jepang memperkenalkan Gboard Conveyor Belt Version, konsep keyboard dengan tombol yang bergerak seperti ban berjalan menuju ujung jari pengguna. Alih-alih menggerakkan tangan mencari huruf, pengguna cukup menunggu tombol yang dibutuhkan melintas di depan jari. Konsep eksperimental ini menambah deretan keyboard nyeleneh yang pernah dirilis Google Jepang.
Gboard Conveyor Belt Version memiliki empat kolom tombol yang tersusun vertikal dan digerakkan mekanisme ban berjalan. Google Jepang mengaku terinspirasi dari cara conveyor belt meningkatkan efisiensi di pabrik, lalu mencoba menerapkan logika serupa untuk aktivitas mengetik.
Hasilnya memang terdengar tidak praktis. Justru di situ letak daya tarik konsep ini: sebuah eksperimen yang sengaja dibuat aneh, bukan produk yang siap dijual ke pasaran.
Setiap tombol bergerak mendekati jari pengguna, bukan sebaliknya. Pengguna tidak perlu menggeser tangan untuk menjangkau huruf tertentu karena tombol yang dibutuhkan datang sendiri.
Mekanisme ini mengubah cara mengetik secara fundamental. Kalau keyboard konvensional menuntut koordinasi jari dan memori posisi huruf, konsep ini menuntut kesabaran menunggu tombol yang tepat melintas.
Google Jepang merencanakan sejumlah fitur pelengkap untuk keyboard ini. Beberapa di antaranya:
Fitur voice guide menjadi yang paling menonjol. Fungsi ini mengubah pengalaman mengetik menjadi semacam interaksi audio, meski belum jelas bagaimana penerapannya dalam penggunaan nyata.
Gboard Conveyor Belt Version bukan proyek pertama Google Jepang yang masuk kategori absurd. Sebelumnya, mereka pernah memperkenalkan keyboard berbentuk rotary hingga keyboard dengan deretan tombol superpanjang dalam satu batang.
Pola ini menunjukkan bahwa divisi Jepang Google punya ruang cukup lebar untuk bereksperimen tanpa tekanan komersial. Konsep-konsep semacam ini berfungsi sebagai ajang uji ide, bukan produk yang ditargetkan masuk lini produksi.
Belum ada informasi resmi soal produksi massal keyboard ini. Google juga tidak menyebut apakah konsep ini akan tersedia di luar Jepang atau hanya menjadi proyek internal.
Bagi pelaku industri perangkat keras, eksperimen Google Jepang memberi gambaran soal arah riset input device. Keyboard fisik memang tidak lagi jadi primadona sejak layar sentuh mendominasi smartphone, tapi pendekatan alternatif tetap punya ruang.
Untuk pengguna Indonesia, konsep ini lebih relevan sebagai bahan diskusi soal arah inovasi. Gboard sendiri merupakan keyboard default di banyak perangkat Android di Tanah Air, sehingga eksperimen apa pun dari Google di ranah input teks selalu menarik dicermati.
Google belum mengumumkan jadwal produksi atau ketersediaan Gboard Conveyor Belt Version. Konsep ini untuk sekarang berstatus eksperimen, bukan produk yang bisa dibeli.