GORONTALO — Kantor Perwakilan LPS Wilayah III menggelar LPS Media Meet Up di Ruang Meeting Diyonumo 3, Hotel Aston Gorontalo. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi antara LPS dan insan media soal tugas, fungsi, serta peran penjaminan simpanan bagi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan LPS Wilayah III, Fuad Zaen, membuka langsung pertemuan tersebut. Ia menilai media berperan sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi soal program penjaminan simpanan dan mendorong literasi keuangan warga Gorontalo.
Fuad menyoroti derasnya arus informasi yang membuat peran jurnalisme berkualitas semakin penting, terutama untuk isu perbankan. Menurutnya, kepercayaan publik adalah fondasi stabilitas sistem keuangan.
"Di tengah derasnya arus informasi, jurnalisme yang berkualitas sangat penting, khususnya terkait isu perbankan, karena kepercayaan publik merupakan fondasi stabilitas sistem keuangan. Melalui pemberitaan yang akurat, edukatif, berimbang, dan mudah dipahami, rekan-rekan media dapat turut membantu meningkatkan literasi keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat di Gorontalo terhadap industri perbankan," ujar Fuad.
Sampai dengan 31 Juli 2026, LPS mencatat 99,95% dari total 716,76 juta rekening nasabah di seluruh Indonesia dijamin penuh. Capaian di Gorontalo lebih tinggi, yakni 99,99% dari 2,44 juta rekening.
LPS menjamin simpanan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Warga perlu memperhatikan kriteria simpanan layak bayar atau Syarat 3T: simpanan tercatat dalam pembukuan bank, bunga yang diterima tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan LPS, dan nasabah tidak diindikasikan atau terbukti melakukan pelanggaran hukum yang merugikan bank.
Rangkaian kegiatan itu juga menghadirkan psikolog Dr. Sukma Nurilawati Botutihe dalam sesi sharing soal psikologi uang dan perilaku finansial. Ia menjelaskan keputusan keuangan tidak hanya dipengaruhi kemampuan mengelola uang, tetapi juga pikiran, emosi, kebiasaan, dan lingkungan sosial.
"Keputusan keuangan kita tidak selalu didasarkan pada perhitungan yang rasional. Emosi, kebiasaan, maupun dorongan untuk mendapatkan kepuasan saat ini dapat memengaruhi cara kita menggunakan uang," jelas Sukma.
Ia menyebut sejumlah perilaku yang memengaruhi keputusan keuangan, seperti present bias, lifestyle creep, dan mental accounting. Tekanan sosial dan FOMO juga dapat mendorong pengeluaran di luar kemampuan.
Karena itu, Sukma menekankan pentingnya mengenali pemicu keputusan keuangan dan membangun kebiasaan menabung secara konsisten. Simpanan, menurutnya, punya makna psikologis sebagai sumber rasa aman menghadapi kondisi darurat maupun ketidakpastian keuangan.
Melalui sinergi dengan insan media dan berbagai pihak, LPS berharap edukasi literasi keuangan dan program penjaminan simpanan menjangkau masyarakat lebih luas. Pemahaman publik yang meningkat diharapkan memperkuat kepercayaan terhadap industri perbankan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.