Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.919 per Dolar AS, Tertekan Harga Minyak Dunia

Penulis: Ragil  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:07:02 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke Rp 17.919 per dolar AS pada Rabu (14/10).

GORONTALO — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 19 poin atau 0,11% ke level Rp 17.919 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (14/10), dari penutupan sebelumnya Rp 17.900. Kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama, meski koreksi indeks dolar AS dan yield US Treasury menahan pelemahan lebih dalam. Pelaku pasar memilih wait and see menjelang rilis data inflasi AS malam ini.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah tipis di awal perdagangan. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak dunia memberi tekanan pada mata uang negara importir energi seperti Indonesia.

"Investor cenderung wait and see mengantisipasi data inflasi AS malam ini," kata Lukman saat dihubungi, Rabu (14/10).

Tekanan terhadap rupiah sebenarnya tidak datang sendirian. Koreksi indeks dolar AS dan penurunan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) menahan pelemahan agar tidak lebih dalam. Dua faktor itu biasanya jadi penopang mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dua Data Inflasi AS yang Ditentukan Pasar

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pasar sedang menanti rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS. CPI dijadwalkan Rabu, sedangkan PPI Kamis.

Konsensus pasar memperkirakan CPI utama September naik 0,6% secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,4% pada bulan sebelumnya. Inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,4%.

"Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang masing-masing dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis," kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/10).

Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong The Fed menahan pelonggaran moneter lebih lama. Dampaknya, dolar AS menguat dan mata uang emerging market tertekan.

Pidato Ketua The Fed di Bangkok Jadi Perhatian

Selain data inflasi, pasar menanti pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada Jumat (16/10). Arah kebijakan suku bunga AS menjadi kunci pergerakan dolar ke depan.

"Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10) juga akan menjadi perhatian pasar," katanya.

Bayang-bayang Pembekuan MSCI Masih Menekan Pasar Modal

Dari domestik, Ibrahim menyebut investor menyoroti kajian penyedia indeks global Morgan Stanley terkait status pembekuan (freeze) pasar modal Indonesia. Isu utama yang disorot MSCI adalah transparansi pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pelaku pasar membaca gelagat bahwa status pembekuan masih akan diberlakukan MSCI dalam kajian edisi November. Sejumlah saham memiliki kepemilikan terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/HSC) sehingga harga yang terbentuk dinilai tidak mencerminkan transaksi riil.

"Hal yang menjadi perhatian MSCI adalah transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)," kata Ibrahim.

Bagi investor, kombinasi tekanan eksternal dan ketidakpastian status indeks menjadi alasan menahan posisi di aset berdenominasi rupiah. Pergerakan rupiah hari ini akan sangat bergantung pada hasil rilis CPI AS malam nanti.

Reporter: Ragil
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top