Ustadz Derry Sulaiman Sebut Lapas Gorontalo Contoh Pembinaan "Masuk Napi, Keluar Santri"

Penulis: Fajar  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 18:31:01 WIB
Ustadz Derry Sulaiman menyampaikan ceramah keislaman di Masjid At-Taubah, Lapas Kelas IIA Gorontalo.

GORONTALO — Kedatangan Derry Sulaiman ke Lapas Kelas IIA Gorontalo bukan sekadar ceramah rutin. Penceramah yang dikenal lewat kajian-kajian keislaman itu melihat langsung bagaimana pembinaan kepribadian dan spiritual dijalankan bagi warga binaan di masjid lingkungan lapas.

Menurut Derry, lembaga pemasyarakatan tidak berhenti sebagai tempat menjalani masa pidana. Lapas, katanya, bisa menjadi ruang memperbaiki diri, memperdalam ilmu agama, dan membangun karakter yang lebih baik.

Dari Napi Menjadi Santri, dari Terdakwa Menjadi Pendakwah

Derry mengaku terkesan dengan upaya pembinaan yang mendorong warga binaan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempelajari Al-Qur'an. Sebagian bahkan berpotensi menjadi penghafal Al-Qur'an dan pendakwah setelah kembali ke tengah masyarakat.

"Masuk napi, keluar santri. Masuk terdakwa, keluar pendakwah. Ini luar biasa, ajib!," ungkap Ustadz Derry Sulaiman saat menyampaikan apresiasinya terhadap pola pembinaan tersebut.

Baginya, konsep pembinaan berbasis pesantren di dalam lapas adalah langkah positif yang perlu dikembangkan. Model itu dinilainya bisa menjadi inspirasi bagi lembaga pemasyarakatan lain di Indonesia.

Derry berharap pembinaan keagamaan menjangkau lebih banyak warga binaan Muslim. Dengan begitu, semakin banyak yang memperoleh kesempatan memperbaiki akhlak, memperkuat iman, dan memperdalam pemahaman agama.

"Lapas tidak lagi dipandang sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan moral yang mampu melahirkan generasi baru beriman dan bermanfaat bagi masyarakat," kata dia.

Kalapas: Bekal Agama dan Keterampilan untuk Kembali ke Masyarakat

Kalapas Gorontalo Junaidi Rison menyambut baik ceramah agama tersebut sebagai bagian dari penguatan pembinaan kepribadian warga binaan. Kehadiran tokoh agama dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran bertobat dan mendorong warga binaan menjalani masa pidana dengan kegiatan positif.

"Kehadiran tokoh agama diharapkan mampu memberikan motivasi, menumbuhkan kesadaran untuk bertobat, serta mendorong warga binaan menjalani masa pidana dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat," ujarnya.

Junaidi menyebut Lapas Gorontalo terus berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku. Penguatan mental dan spiritual juga menjadi bagian dari program yang dijalankan.

"Dengan bekal ilmu agama, akhlak, serta keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana, warga binaan diharapkan mampu kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, dan bermanfaat," pungkasnya.

Kegiatan di Masjid At-Taubah itu diikuti warga binaan dan jajaran Lapas Gorontalo, termasuk ketua Dharma Wanita. Pembinaan keagamaan menjadi salah satu jalur yang ditempuh lapas untuk menyiapkan warga binaan kembali ke masyarakat.

Reporter: Fajar
Sumber: dulohupa.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top