Pulau Nias Terbagi 3 Klaster Wisata, Fokus Pariwisata di Nias Selatan

Penulis: Fajar  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:06:31 WIB
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution membagi pembangunan Kepulauan Nias menjadi tiga klaster dengan pariwisata dipusatkan di Nias Selatan.

GORONTALO — Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution membagi pembangunan Kepulauan Nias menjadi tiga klaster, dengan sektor pariwisata dipusatkan di Nias Selatan. Kawasan ini menyimpan Desa Bawamataluo yang diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO, lengkap dengan tradisi lompat batu dan rumah adat berusia lebih dari 200 tahun. Penataan bertahap ini jadi acuan traveler yang ingin menyusun rute kunjungan ke Nias.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan pembagian peran tiap wilayah di Kepulauan Nias, bukan menjadikan seluruh pulau sebagai destinasi wisata. Sentra ekonomi ditempatkan di Kota Gunungsitoli, sentra pertanian di Nias Barat, sementara sektor pariwisata dipusatkan di Nias Selatan. Kebijakan itu disampaikan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dengan merujuk pada pola pengembangan bertahap yang pernah berjalan di Bali.

Tiga Klaster Pengembangan Kepulauan Nias

Pembagian klaster ini penting dipahami traveler karena menentukan ke mana arah kunjungan sebaiknya diarahkan. Gunungsitoli berperan sebagai pusat ekonomi dan kemungkinan besar menjadi titik masuk utama, sedangkan Nias Barat difokuskan pada sektor pertanian. Nias Selatan menjadi wilayah yang diprioritaskan untuk pengembangan atraksi budaya dan alam.

Bobby mencontohkan perjalanan panjang pariwisata Bali yang awalnya hanya dikenal lewat Pantai Kuta, lalu melebar ke Nusa Dua hingga Canggu. "Artinya pembangunan pariwisata tidak langsung semuanya, harus step by step, tahap bertahap," ujarnya dikutip dari detikSumut.

Desa Bawamataluo dan Tradisi Lompat Batu

Desa Bawamataluo di Nias Selatan menjadi magnet utama kawasan ini. Permukiman yang berada di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut itu telah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Yang membuatnya berbeda adalah tradisi megalitikum yang masih hidup, bukan sekadar peninggalan yang dipamerkan.

Tradisi Fahombo atau lompat batu masih dijalankan hingga kini dan menjadi atraksi yang paling ditunggu wisatawan. Selain itu, desa ini mempertahankan permukiman tradisional yang terawat, termasuk Omo Sebua atau Rumah Raja yang usianya lebih dari 200 tahun.

Situs Megalit Tetegowo Menanti Revitalisasi

Nias Selatan menyimpan satu situs megalitikum lain, yakni Megalit Tetegowo di Desa Hilisao'oto, Kecamatan Sidua'ori. Situs ini direncanakan direvitalisasi tahun depan agar lebih menarik dikunjungi. Bagi traveler yang mengejar wisata arkeologi dan budaya, kawasan ini layak masuk daftar pantau sebelum penataan selesai.

Aktivitas yang Bisa Direncanakan

  • Menyaksikan langsung tradisi Fahombo di Desa Bawamataluo
  • Menelusuri permukiman adat dan Omo Sebua berusia lebih dari 200 tahun
  • Mengunjungi Situs Megalit Tetegowo di Hilisao'oto
  • Menikmati lanskap desa di ketinggian 324 mdpl

Cara Menuju dan Tips Berkunjung

Kepulauan Nias dapat dijangkau lewat jalur udara menuju Bandara Binaka di Gunungsitoli, yang juga berfungsi sebagai sentra ekonomi pulau. Dari sana, perjalanan darat menuju Nias Selatan memakan waktu cukup panjang sehingga wisatawan disarankan mengatur jadwal dengan longgar. Informasi terkini soal rute, jadwal penerbangan, dan tarif angkutan dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.

Datanglah pada musim kemarau agar akses jalan lebih bersahabat dan acara adat lebih mudah dijadwalkan. Bawa uang tunai secukupnya, kenakan pakaian sopan saat masuk permukiman adat, dan mintalah izin sebelum memotret warga atau upacara.

Dengan pembagian klaster yang makin jelas, kunjungan ke Nias Selatan bisa dirancang sebagai perjalanan budaya dua sampai tiga hari, cukup untuk menyaksikan lompat batu, menyusuri rumah adat, dan mampir ke situs megalit sebelum revitalisasi dimulai.

Reporter: Fajar
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top