GORONTALO — Program Belt and Road International Mariculture Technologies mempertemukan peneliti dari delapan negara untuk mendalami budidaya laut berkelanjutan. Arfiani terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam forum yang digelar di Cina tersebut.
Selain Indonesia, peserta berasal dari Ekuador, Rusia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Keragaman latar belakang itu menjadi modal pertukaran pengalaman riset antarnegara.
Pelaksanaan program berada di bawah bagian kerja sama internasional Ministry of Science and Technology (MOST) Republik Rakyat Tiongkok. Dukungan juga datang dari Network of Aquaculture Centres in Asia-Pacific (NACA) serta State Key Laboratory of Mariculture Biobreeding and Sustainable Goods.
State Key Laboratory tersebut berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akuakultur berkelanjutan. Keterlibatan lembaga ini memberi peserta akses ke perkembangan riset terkini di bidang marikultur.
Selama kegiatan, peserta memperoleh pengetahuan baru soal perkembangan teknologi marikultur dan inovasi budidaya laut. Pendekatan ilmiah untuk mendukung pengembangan sektor akuakultur juga menjadi bagian materi.
Bagi FKTP UNG, keikutsertaan Arfiani menjadi jalur transfer pengetahuan yang bisa diterapkan pada pengembangan perikanan di Gorontalo. Sektor kelautan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah tersebut.
Kegiatan ini berfungsi sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara. Dari forum tersebut terbuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi kelautan.
Peserta dari berbagai negara saling berbagi perspektif, pengalaman riset, serta perkembangan teknologi marikultur di masing-masing wilayah. Jaringan yang terbentuk berpotensi menghubungkan UNG dengan lembaga riset akuakultur internasional.
Program ini menjadi bekal bagi penguatan kapasitas dosen sekaligus pengembangan jejaring akademik lintas negara di sektor kelautan dan perikanan.