Dosen UNG Arfiani Rizki Paramata Wakili Indonesia di Program Marikultur Cina, Bersaing dengan 8 Negara

Penulis: Yasir  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:01:01 WIB
Dosen UNG Arfiani Rizki Paramata menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam Program Belt and Road International Mariculture Technologies di Cina.

GORONTALO — Program Belt and Road International Mariculture Technologies mempertemukan peneliti dari delapan negara untuk mendalami budidaya laut berkelanjutan. Arfiani terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam forum yang digelar di Cina tersebut.

Selain Indonesia, peserta berasal dari Ekuador, Rusia, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Keragaman latar belakang itu menjadi modal pertukaran pengalaman riset antarnegara.

Dukungan MOST Cina dan NACA

Pelaksanaan program berada di bawah bagian kerja sama internasional Ministry of Science and Technology (MOST) Republik Rakyat Tiongkok. Dukungan juga datang dari Network of Aquaculture Centres in Asia-Pacific (NACA) serta State Key Laboratory of Mariculture Biobreeding and Sustainable Goods.

State Key Laboratory tersebut berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akuakultur berkelanjutan. Keterlibatan lembaga ini memberi peserta akses ke perkembangan riset terkini di bidang marikultur.

Materi Teknologi Budidaya Laut yang Dipelajari

Selama kegiatan, peserta memperoleh pengetahuan baru soal perkembangan teknologi marikultur dan inovasi budidaya laut. Pendekatan ilmiah untuk mendukung pengembangan sektor akuakultur juga menjadi bagian materi.

Bagi FKTP UNG, keikutsertaan Arfiani menjadi jalur transfer pengetahuan yang bisa diterapkan pada pengembangan perikanan di Gorontalo. Sektor kelautan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah tersebut.

Peluang Kolaborasi Pendidikan dan Penelitian

Kegiatan ini berfungsi sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara. Dari forum tersebut terbuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi kelautan.

Peserta dari berbagai negara saling berbagi perspektif, pengalaman riset, serta perkembangan teknologi marikultur di masing-masing wilayah. Jaringan yang terbentuk berpotensi menghubungkan UNG dengan lembaga riset akuakultur internasional.

Program ini menjadi bekal bagi penguatan kapasitas dosen sekaligus pengembangan jejaring akademik lintas negara di sektor kelautan dan perikanan.

Reporter: Yasir
Sumber: darilaut.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top