GORONTALO UTARA — Banjir yang melanda Kabupaten Gorontalo Utara beberapa waktu lalu meninggalkan luka di sektor perekonomian warga. Bencana ini tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus denyut nadi usaha kecil dan produktivitas lahan pertanian di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, setidaknya ada lima dampak utama yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari kegagalan panen hingga menurunnya daya beli di tingkat pasar tradisional.
Lahan Pertanian Terendam, Petani Gagal Panen
Sektor pertanian menjadi yang paling pertama terpukul. Ratusan hektare sawah dan ladang jagung milik petani di Kecamatan Kwandang dan Anggrek terendam banjir selama beberapa hari.
Akibatnya, tanaman yang siap panen membusuk di lokasi. Para petani terpaksa merelakan hasil jerih payah mereka musnah, sementara biaya produksi seperti bibit dan pupuk sudah terlanjur dikeluarkan.
Akses Distribusi Terputus, Harga Komoditas Naik
Banjir juga merendam ruas jalan utama yang menghubungkan kecamatan di pesisir dengan pusat kota. Akibatnya, distribusi barang dari dan menuju Gorontalo Utara sempat lumpuh total.
Pasokan sembako dari Kota Gorontalo macet di perjalanan. Harga cabai dan bawang merah di Pasar Sentral Kwandang tercatat naik hingga 30 persen dalam sepekan karena terbatasnya stok yang masuk.
UMKM dan Warung Makan Sepi Pembeli
Pemilik warung makan dan usaha mikro di sekitar lokasi banjir mengeluhkan omzet yang turun drastis. Aktivitas warga yang terhambat membuat daya beli masyarakat menurun.
Seorang pedagang gorengan di Kecamatan Gentuma Raya mengaku pendapatannya turun hingga setengah dari hari normal. “Biasanya bisa Rp 200 ribu sehari, sekarang paling Rp 80 ribu,” ujarnya.
Tambak Ikan Air Payau Rusak, Nelayan Terdampak
Di sektor perikanan, banjir menyebabkan air tawar bercampur dengan air laut di area tambak. Kondisi ini membuat ikan bandeng dan udang vaname di Kecamatan Tomilito stres dan mati mendadak.
Para petambak di pesisir utara harus memanen lebih awal dengan harga jual yang jauh lebih rendah dari harga normal. Kerugian di sektor ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Pasar Tradisional Sepi, Pedagang Mengungsi
Pasar tradisional di Kecamatan Sumalata sempat ditutup selama dua hari karena genangan air setinggi lutut orang dewasa. Para pedagang memilih mengungsi atau menitipkan dagangan ke rumah kerabat.
Aktivitas jual beli baru berangsur pulih setelah air surut, namun volume transaksi masih jauh dari kata normal. Banyak pembeli yang menunda belanja karena sibuk membersihkan rumah dari sisa banjir.