GORONTALO — Berdasarkan data Wise.com yang dipantau hingga pukul 09.49 WIB, pelemahan hari ini menambah deretan catatan negatif rupiah dalam sepekan terakhir. Dalam periode satu bulan, dolar AS sudah menguat 2,07% terhadap rupiah. Angka itu memburuk jika dilihat dalam rentang tiga bulan, di mana penguatan dolar AS mencapai 5,44%.
Level Psikologis Rp18.000 Kian Sulit Ditinggalkan
Pembukaan perdagangan hari ini di angka Rp18.020,6 menunjukkan tidak ada perubahan berarti dari posisi penutupan sebelumnya. Pelaku pasar masih gamang mendorong rupiah kembali ke bawah level Rp18.000, apalagi menuju kisaran Rp17.900 yang sempat menjadi ekspektasi beberapa pekan lalu.
Dalam jangka panjang, tren pelemahan rupiah semakin jelas. Data 52 minggu terakhir mencatat rentang pergerakan USD/IDR berada di Rp16.085 hingga Rp18.197,5. Artinya, posisi rupiah saat ini sudah mendekati batas atas historisnya.
Tekanan Berlanjut dalam Enam Bulan hingga Satu Tahun
Kinerja rupiah dalam enam bulan terakhir menunjukkan depresiasi sebesar 6,97%. Sementara itu, dalam periode satu tahun, dolar AS tercatat menguat hingga 11,01% terhadap rupiah. Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap nilai tukar bukan hanya fenomena jangka pendek, melainkan tren struktural yang berlangsung sejak tahun lalu.
Pelemahan hari ini memperpanjang catatan buruk rupiah yang sudah berada di atas level Rp18.000 selama beberapa sesi terakhir. Para analis sebelumnya memperingatkan bahwa bertahannya rupiah di zona ini bisa memicu kekhawatiran baru di pasar obligasi dan saham, terutama terkait biaya impor dan tekanan inflasi.
Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha
Bagi importir, pelemahan rupiah berarti biaya bahan baku dan barang modal semakin mahal. Sementara bagi eksportir, posisi ini justru menguntungkan karena pendapatan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah. Pelaku pasar modal biasanya merespons negatif pelemahan kurs karena berpotensi memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi.
Level psikologis Rp18.000 masih menjadi garis pantau utama. Jika rupiah terus bertahan di atas level ini dalam beberapa hari ke depan, tekanan terhadap cadangan devisa dan kebijakan moneter Bank Indonesia diperkirakan akan semakin besar.