Pencarian

Iran Tegaskan Prioritas pada Perundingan, Tuntut Jaminan AS Tak Ulangi Pelanggaran di Masa Negosiasi

Sabtu, 18 Juli 2026 • 11:33:01 WIB
Iran Tegaskan Prioritas pada Perundingan, Tuntut Jaminan AS Tak Ulangi Pelanggaran di Masa Negosiasi
Iran tegaskan prioritas pada perundingan dengan AS dengan syarat jaminan tidak terulangnya pelanggaran di masa negosiasi sebelumnya.

GORONTALO — Iran membuka pintu untuk perundingan baru dengan Amerika Serikat, namun dengan satu syarat mutlak: Washington harus memberikan jaminan kredibel bahwa pelanggaran di masa negosiasi sebelumnya tidak akan terulang. Sikap ini disampaikan langsung oleh Kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, kepada kantor berita RIA Novosti.

"Kami menyambut baik dialog dan perundingan. Namun, para mediator harus secara serius memenuhi tanggung jawab mereka, yaitu memberi kami jaminan bahwa AS tidak akan mengulangi kesalahannya," kata Azizi.

Azizi menegaskan, Teheran tidak lagi memiliki kepercayaan penuh terhadap Washington. Menurutnya, selama proses negosiasi sebelumnya, Iran telah beberapa kali menjadi sasaran serangan dari pihak AS. Hal ini, kata dia, menjadi catatan hitam yang harus diakui oleh para mediator internasional.

Mediator Dinilai Gagal Beri Jaminan ke Teheran

Anggota parlemen Iran itu secara terbuka mengkritik kinerja negara-negara yang bertindak sebagai mediator. Ia menyebut sejauh ini para mediator belum berhasil mendesak AS untuk mengakui kesalahannya di masa lalu.

"Seluruh dunia menyaksikan hal itu. Sejumlah negara yang bertindak sebagai mediator, dengan mempertimbangkan fakta tersebut, harus mendesak AS untuk mengakui kesalahannya," ujar Azizi.

Pernyataan ini muncul setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman dari jarak jauh pada 18 Juni lalu untuk mengakhiri konflik militer. Namun, kesepakatan itu kandas setelah pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan sejak 8 Juli.

Serangan Balasan di Selat Hormuz dan Timur Tengah

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa serangan terhadap Iran merupakan respons atas tindakan Teheran terhadap sejumlah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Selat strategis ini kerap menjadi titik panas perselisihan kedua negara.

Pasukan Iran tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang beberapa pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan yang baru saja diteken kedua negara.

Azizi menambahkan, jika AS terus melanggar komitmennya, Iran juga tidak akan merasa perlu untuk mematuhi perjanjian apa pun. "AS yang telah menyebabkan ketidakpercayaan ini," tegasnya.

Bagikan
Sumber: gorontalo.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks