GORONTALO — Suara dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Gorontalo dipastikan BMKG bukan berasal dari aktivitas gempa bumi, baik tektonik maupun vulkanik. Warga di beberapa lokasi melaporkan bunyi menggelegar itu dan sempat mengira sedang terjadi gempa.
BMKG menyatakan hasil pemantauan alat seismograf tidak menunjukkan adanya aktivitas kegempaan yang berkaitan dengan bunyi tersebut. Kepastian ini menjadi jawaban atas kebingungan warga yang ramai saling bertanya soal sumber dentuman.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Gorontalo?
Dentuman terdengar di sejumlah wilayah Gorontalo dan menjadi perbincangan warga setempat. Sebagian warga sempat mengungsi keluar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan.
BMKG menegaskan bunyi tersebut tidak terdeteksi sebagai gempa tektonik maupun vulkanik. Artinya, sumber dentuman berada di luar kategori aktivitas kegempaan yang biasa dipantau.
Meski begitu, BMKG belum merinci penyebab pasti bunyi tersebut. Masyarakat diminta menunggu penjelasan resmi lebih lanjut dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Respons Warga dan Imbauan BMKG
Warga di beberapa kecamatan mengaku mendengar bunyi itu secara bersamaan. Sebagian memilih keluar rumah untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Warga juga diminta memantau informasi resmi dari kanal BMKG dan instansi terkait.
Hingga kini belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban akibat peristiwa tersebut. Pemerintah daerah setempat disebut terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau situasi.
Dentuman Serupa Pernah Terjadi di Berbagai Daerah
Fenomena dentuman keras tanpa gempa bukan hal baru di Indonesia. Di beberapa daerah, bunyi serupa pernah dilaporkan warga dan belakangan diketahui berasal dari aktivitas non-gempa.
BMKG biasanya merilis penjelasan resmi setelah melakukan analisis data alat pemantau. Warga diimbau tidak mengaitkan dentuman dengan isu yang tidak berdasar.
Bagi warga Gorontalo yang masih merasa khawatir, BMKG menyarankan mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi. Langkah itu penting agar tidak terjebak hoaks yang beredar di media sosial.