GORONTALO — Toleransi antarumat beragama di Gorontalo dibangun dari hal paling sederhana: hubungan baik dengan tetangga yang berbeda keyakinan. Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Gorontalo, Meske Repi, menyebut kebiasaan saling berkunjung saat hari raya menjadi salah satu praktik yang menjaga kerukunan tetap hidup di tengah masyarakat.
Menurut Meske, sikap menghargai tidak perlu dimulai dari forum besar. Ia mencontohkan kerja sama antarwarga di lingkungan tempat tinggal yang berlangsung tanpa memandang perbedaan agama.
Silaturahmi Saat Idul Fitri hingga Natal
Meske menjelaskan, momentum hari besar keagamaan menjadi ruang bertemu antarumat. Saat Idul Fitri, warga yang bukan Muslim tetap saling menyapa dan bersalaman dengan tetangga mereka.
"Contohnya di masyarakat, kita kerja sama dengan tetangga. Ada hari-hari raya besar, tentu kita saling silaturahmi. Kalau ada hari raya Idul Fitri, tetangga kita ya kita bisa salam-salaman," ujar Meske.
Pola yang sama berlaku ketika umat Kristiani merayakan Natal. Meske menyebut silaturahmi lintas agama pada momen tersebut sebagai bentuk sederhana menjaga hubungan baik.
"Dan untuk hari raya Natal, untuk umat Kristiani, kita saling silaturahmi," katanya.
Pemkot dan Pemprov Turun Langsung Lewat Safari Hari Raya
Pemerintah daerah ikut ambil bagian dalam merawat kerukunan. Meske menyebut Pemkot dan Pemprov Gorontalo rutin menggelar kegiatan keliling pada hari besar keagamaan, mulai dari Safari Natal hingga Safari Idul Fitri.
"Contohnya ini sudah dilakukan oleh pemerintah kota maupun provinsi. Mereka keliling Safari Natal, Safari Idul Fitri, saling memberikan salam-salam pada hari raya besar," jelasnya.
Kegiatan itu dinilai memberi pesan bahwa kerukunan bukan urusan satu kelompok saja, melainkan tanggung jawab bersama warga dan pemerintah daerah.
Antusiasme Imlek dan Cap Go Meh Jadi Penanda Kebersamaan
Meske juga menyoroti perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Gorontalo yang disebutnya selalu mendapat sambutan besar dari masyarakat. Antusiasme itu, menurut dia, memperlihatkan kerukunan antarumat beragama berjalan di ranah praktik, bukan hanya wacana.
"Imlek, kita lihat kalau ada Imlek di sini, Cap Go Meh, itu luar biasa antusias masyarakat. Nah, itu sudah menunjukkan religi atau kerukunan antara umat beragama," ungkap Meske.
Ia menilai keberagaman di Gorontalo perlu terus dirawat dengan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat perayaan besar berlangsung.
"Disitulah kita saling memupuk perbedaan kita," pungkasnya.
Bagi FKUB Kota Gorontalo, kerukunan yang bertahan lama bertumpu pada interaksi warga di tingkat RT/RW dan kelurahan. Silaturahmi yang berjalan rutin dinilai lebih kuat menahan gesekan dibandingkan seremonial sesaat.