GORONTALO — Profil sosial ekonomi Gorontalo masih didominasi kelompok rentan, yakni warga yang sudah keluar dari garis kemiskinan tetapi belum benar-benar mapan. Kondisi itu membuat target pembangunan tidak cukup berhenti pada penurunan angka kemiskinan, melainkan harus naik ke perluasan kelas menengah produktif.
Ridwan Monoarfa, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, menyoroti hal tersebut dalam catatannya soal arah pembangunan daerah. Menurut dia, menyusutnya kelas menengah nasional bukan sekadar statistik, melainkan alarm sosial yang berdampak langsung ke daerah.
Siapa yang Menopang Ekonomi Harian Gorontalo
Kelas menengah di Gorontalo hadir dari kalangan aparatur sipil negara, guru, dosen, tenaga kesehatan, pedagang mapan, pelaku UMKM, petani produktif, profesional muda, dan wirausaha lokal. Kelompok ini yang menjaga denyut ekonomi sehari-hari, mulai dari membeli rumah, kendaraan, perlengkapan sekolah, hingga membuka usaha kecil.
Saat mereka percaya diri, pasar lokal ikut bergerak. Sebaliknya, ketika konsumsi ditahan akibat pendapatan yang tidak pasti, perlambatan cepat terasa di pusat perdagangan dan jasa.
Ketergantungan pada Konsumsi Rumah Tangga Jadi Titik Rawan
Pertumbuhan ekonomi Gorontalo dinilai layak diapresiasi, tetapi fondasinya masih bertumpu besar pada konsumsi rumah tangga. Ketergantungan itu membuat ekonomi mudah rapuh begitu daya beli masyarakat menurun.
Pertumbuhan juga kurang kokoh bila tidak disertai perluasan sektor produksi bernilai tambah tinggi. Banyak keluarga di Gorontalo hidup sedikit di atas ambang kerentanan, sehingga kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, atau gangguan kesehatan bisa dengan cepat mendorong mereka kembali ke bawah.
Hilirisasi Komoditas Jadi Langkah Pertama
Gorontalo dinilai tidak boleh terus terjebak sebagai pemasok bahan mentah. Produk unggulan seperti jagung, kelapa, kakao, perikanan, dan peternakan perlu diolah lebih jauh di dalam daerah.
Nilai tambah yang tercipta akan memperbesar pendapatan lokal, membuka lapangan kerja formal, dan melahirkan kelas menengah baru dari sektor produktif.
UMKM Perlu Naik Kelas lewat Digitalisasi dan Pembiayaan
Banyak usaha kecil di Gorontalo memiliki daya tahan tinggi, tetapi masih terbatas pada skala informal. Mereka perlu didorong melalui digitalisasi, akses pembiayaan, pendampingan manajemen, dan kepastian pasar.
Ketika UMKM naik kelas, pemilik usaha bertumbuh, tenaga kerja terserap, dan ekonomi lokal menjadi lebih dinamis.
Modal Manusia Dinilai Lebih Menentukan daripada Jalan dan Gedung
Investasi pada kualitas manusia disebut sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Sekolah berkualitas, pendidikan vokasi yang relevan, literasi digital, jejaring usaha, serta budaya meritokrasi menjadi modal yang menentukan.
"Jalan dan gedung perlu, tetapi manusia unggul jauh lebih menentukan," tulis Ridwan dalam catatannya.
Daya Beli Warga Harus Dijaga
Karena ekonomi masih ditopang konsumsi, inflasi pangan dan gejolak harga kebutuhan pokok harus dikendalikan. Kelas menengah rentan sangat mudah terpukul oleh lonjakan harga.
Stabilitas pasokan pangan, distribusi yang efisien, dan perlindungan sosial yang tepat sasaran disebut tetap menjadi keharusan. Ridwan menegaskan masa depan Gorontalo tidak hanya ditentukan besarnya APBD atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.
"Sebab daerah maju bukan semata daerah yang kaya anggaran, melainkan daerah yang berhasil memperbesar kelas menengahnya," tulisnya.