20 Akuisisi Jumbo 2026: Manuver Prajogo, Salim-Bakrie, hingga Happy Hapsoro

Penulis: Sutomo  •  Senin, 21 September 2026 | 08:39:32 WIB
Ilustrasi gedung bursa saham menggambarkan gelombang akuisisi jumbo sepanjang 2026.

GORONTALO — Sedikitnya 20 transaksi akuisisi bernilai besar mewarnai peta bisnis Indonesia sepanjang 2026, melibatkan konglomerat seperti Prajogo Pangestu, kongsi Grup Salim–Bakrie, hingga Happy Hapsoro. Transaksi terbaru datang dari FrieslandCampina dan Ultrajaya senilai Rp 14,57 triliun. Ekspansi ini menyentuh sektor energi, tambang, kesehatan, telekomunikasi, sampai manajemen investasi.

Gelombang akuisisi sepanjang 2026 menunjukkan kelompok usaha besar Tanah Air tidak melambat meski ketidakpastian global masih membayangi. Dari catatan transaksi yang terhimpun, sedikitnya 20 kesepakatan jumbo tercatat, mulai dari pengambilalihan aset energi di luar negeri hingga konsolidasi rumah sakit dan tambang emas.

Nama-nama besar yang muncul antara lain Prajogo Pangestu, kongsi Grup Salim–Bakrie, Happy Hapsoro, dan Sinar Mas Group milik Franky Oesman Widjaja.

FrieslandCampina dan Ultrajaya Ubah Peta Pengendalian

Transaksi paling anyar datang dari FrieslandCampina dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ). Keduanya mengumumkan kerja sama yang akan mengubah struktur pengendalian ULTJ sekaligus PT Frisian Flag Indonesia (FFI).

Jika restu regulator diperoleh dan transaksi tuntas, FrieslandCampina bakal menjadi pengendali baru ULTJ. Perseroan berencana menerbitkan sekitar 7,9 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 2.150 per saham.

Dana dan saham hasil aksi korporasi itu mayoritas dipakai untuk mengambil alih 100% saham FFI lewat mekanisme inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk selain uang. Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp 14,57 triliun.

Dalam rights issue tersebut, pengendali ULTJ akan mengalihkan haknya kepada pemegang saham FFI, yakni FrieslandCampina International Holding B.V., Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa. Ketiga pemegang saham FFI akan mengambil bagian lewat inbreng.

Prajogo Pangestu Lanjutkan Ekspansi Lewat TPIA dan CUAN

Prajogo Pangestu meneruskan agresivitas ekspansinya melalui sejumlah transaksi yang efektif maupun baru diumumkan sepanjang 2026. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengakuisisi jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura dengan nilai sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 17,82 triliun.

TPIA juga mengambil alih bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia dari Jardine Cycle & Carriage (SGX: C07). Nilai transaksinya sekitar US$ 207 juta atau Rp 3,69 triliun.

Ekspansi berlanjut lewat anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang mengakuisisi 40% saham PT Armada Maritim Persada dari PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) senilai Rp 1,61 triliun.

Di jalur lain, CUAN melalui entitasnya PT Petrosea Tbk (PTRO) kini menggenggam 27,78% saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten milik Happy Hapsoro Sukmonohadi, suami Ketua DPR RI Puan Maharani.

Manajemen CUAN menyatakan perseroan tengah bernegosiasi dengan pemegang saham SINI terkait rencana pengambilalihan tersebut.

"Rencana Pengambilalihan, maka CUAN (melalui entitas anaknya) akan menjadi pemegang saham terbesar pada SINI dan sekaligus memiliki pengendalian terhadap arah dan kebijakan perusahaan dan manajemen SINI," tulis manajemen CUAN dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (4/9).

BUMI Biayai Akuisisi Loyal Metals Lewat Pinjaman Glencore

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyiapkan sekitar Rp 1 triliun untuk mengakuisisi Loyal Metals. Uniknya, dana ekspansi itu mayoritas berasal dari utang yang dipinjam dari raksasa komoditas global Glencore Australia Holdings Pty Limited.

Direktur Bumi Resources, R.A Sri Dharmayanti, menyebut BUMI memperoleh pinjaman US$ 54 juta atau setara Rp 958,28 miliar dari Glencore berdasarkan Facility Agreement yang diteken pada 24 Agustus 2026.

Sri Dharmayanti menuturkan akuisisi Loyal Metals dilakukan setelah penilaian internal dan uji tuntas menunjukkan nilai bersih sekarang atau NPV positif serta tingkat pengembalian internal atau IRR di atas ambang minimum investasi perseroan.

BUMI juga melihat potensi sinergi karena aset Loyal Metals, Wolfram Limited, dan Jubilee Metals sama-sama berada di Queensland. Sinergi itu mencakup operasional, infrastruktur pengolahan, tenaga kerja teknis, kontraktor pertambangan, hingga jalur logistik. Ketiga aset tersebut juga memiliki kesamaan struktur perizinan dan pemenuhan kewajiban lingkungan karena berada dalam satu yurisdiksi.

"Kesesuaian dengan strategi perseroan, akuisisi ini mendukung sasaran untuk mencapai bauran EBITDA dari kegiatan usaha non-batubara termal di atas 50% pada tahun 2031," ucap Sri.

Deret Transaksi Jumbo Lainnya di Sektor Kesehatan dan Tambang

Di luar manuver para konglomerat, deretan transaksi sepanjang 2026 memperlihatkan agresivitas perusahaan memperluas aset ke sektor-sektor strategis. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), misalnya, menyiapkan akuisisi 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit First REIT dengan nilai sekitar Rp 9 triliun.

PT United Tractors Tbk (UNTR) memperluas portofolio tambangnya melalui akuisisi Tambang Emas Doup milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) senilai Rp 8,85 triliun. Di sektor media dan telekomunikasi, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut masuk dalam daftar transaksi besar yang tercatat sepanjang periode yang sama.

Reporter: Sutomo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top