Mobil Listrik di Indonesia Makin Laris, Tapi Baterai dan SPKLU Masih Jadi Keraguan

Penulis: Ragil  •  Senin, 21 September 2026 | 11:07:31 WIB
Penjualan mobil listrik di Indonesia terus tumbuh seiring hadirnya model dengan harga lebih terjangkau.

GORONTALO — Penjualan mobil listrik di Indonesia terus tumbuh, seiring hadirnya model baru dengan harga lebih terjangkau. Namun, mahalnya biaya penggantian baterai, perawatan, dan keterbatasan SPKLU masih menahan sebagian konsumen untuk beralih dari kendaraan konvensional. Pengamat otomotif Bebin Djuana menyebut tiga faktor itu sebagai kekhawatiran utama calon pembeli.

Pertumbuhan pasar mobil listrik di Indonesia tidak serta-merta menghapus keraguan masyarakat. Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kekhawatiran itu bukan soal teknologi, melainkan soal biaya dan kesiapan ekosistem yang mengelilinginya.

Baterai Jadi Komponen Paling Ditakuti

Baterai adalah komponen termahal dalam sebuah mobil listrik. Karena itu, biaya penggantian dan usia pakainya menjadi pertimbangan pertama calon konsumen.

"Ini bagian yang dianggap menakutkan karena biaya baterai dinilai sangat mahal dan juga usia pakainya," ujar Bebin dalam tayangan Autobizz CNBC Indonesia.

Angkanya memang tidak kecil. Untuk Hyundai Ioniq 5, harga baterai disebut berada di kisaran Rp300 juta hingga Rp400 juta. Sementara baterai Jaecoo J5 berada di kisaran Rp170 juta.

Sejumlah produsen mencoba menjawab kekhawatiran itu lewat garansi khusus baterai. Beberapa merek bahkan menawarkan garansi seumur hidup, meski dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Perawatan Mobil Listrik Belum Teruji Lama

Faktor kedua yang membuat sebagian orang berpikir dua kali adalah perawatan. Teknologi mobil listrik relatif baru dibandingkan kendaraan bermesin konvensional yang sudah puluhan tahun dipakai masyarakat.

"Karena ini teknologi baru, muncul pertanyaan lain, 'Siapa yang akan menangani perawatannya?'" kata Bebin.

Pertanyaan itu wajar. Bengkel umum belum tentu punya peralatan dan tenaga terlatih untuk menangani komponen bertegangan tinggi, sehingga pemilik mobil listrik masih bergantung pada jaringan servis resmi.

Antrean SPKLU Saat Liburan Jadi Risiko Nyata

Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menjadi perhatian lain, terutama bagi pengguna yang sering menempuh perjalanan jauh.

Kekhawatiran muncul ketika jumlah mobil listrik terus bertambah, sementara kebutuhan pengisian daya melonjak pada periode tertentu seperti akhir pekan dan musim liburan. Antrean di SPKLU menjadi salah satu risiko yang harus diperhitungkan pengguna.

"Ini jadi cerita menakutkan lainnya. Apakah infrastruktur SPKLU sudah siap untuk menampung begitu banyak mobil?" ujar Bebin.

Menunggu Ngecas Dianggap Konsekuensi Wajar

Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, perkembangan mobil listrik menunjukkan masyarakat mulai beradaptasi dengan teknologi kendaraan baru.

Bagi sebagian pengguna, waktu menunggu pengisian daya diterima sebagai konsekuensi demi menggunakan kendaraan listrik.

"Namun mereka tidak peduli. Mereka tetap melaju. Mereka bahkan rela menginap semalam untuk ngecas," lanjutnya.

Dengan pertumbuhan penjualan yang terus berlanjut, harga dan usia baterai, layanan perawatan, serta kesiapan infrastruktur pengisian daya tetap menjadi tiga faktor penentu sebelum konsumen memutuskan beralih ke kendaraan listrik.

Reporter: Ragil
Sumber: vibizmedia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top