JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tidak hanya mengandalkan tenda dan posko biasa. Di kawasan Jamarat, Mina, mereka menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) yang dirancang khusus untuk merespons situasi darurat secara cepat.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menjelaskan bahwa MCR adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jamaah selama puncak ibadah haji.
Posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jamaah. Penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung dan merespons cepat kondisi darurat.
Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 petugas Satgas Mina. Mereka tidak hanya berada di tenda-tenda jamaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan.
“Setiap jamaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tegas Maria dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Sejak 11 Dzulhijjah 1447 Hijriah, jamaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah. Kemenhaj mengimbau jamaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi.
Maria kembali mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.
Jamaah juga diminta memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan di kawasan Jamarat. Pada waktu larangan, jamaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas.
Keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan.