GORONTALO — Rupiah pagi ini bergerak searah dengan mayoritas mata uang kawasan Asia yang kompak melemah. Won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,71 persen, disusul peso Filipina minus 0,18 persen, dan baht Thailand minus 0,17 persen. Mata uang utama negara maju juga tak luput dari tekanan, dengan euro melemah 0,12 persen dan franc Swiss turun 0,27 persen terhadap dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran yang masih limbung. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS hari ini.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan terhadap rupiah juga berasal dari peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kebutuhan valas tersebut digunakan untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas. "Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas rupiah. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki BI, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Di tengah tekanan, ada sedikit kabar positif. Lukman Leong menambahkan bahwa penurunan harga minyak dunia bisa menjadi faktor pendukung bagi rupiah ke depan, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak. "Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujarnya. Namun, investor masih akan mencermati data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis besok sebagai indikator kesehatan ekonomi domestik selanjutnya.
Pelemahan rupiah di atas Rp17.800 per dolar AS memberikan tekanan langsung pada emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar dan ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Sektor properti, ritel, dan manufaktur padat impor biasanya menjadi yang paling terpukul. Sebaliknya, emiten berbasis komoditas ekspor seperti batu bara dan kelapa sawit justru bisa diuntungkan karena pendapatan mereka dalam dolar AS.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki exposure valas, fluktuasi ini menjadi pengingat pentingnya strategi lindung nilai atau hedging. Sementara bagi investor ritel, pergerakan kurs menjadi indikator yang perlu dicermati karena kerap mempengaruhi aliran modal asing di pasar saham dan obligasi.
Apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah?
BI saat ini masih mengandalkan intervensi pasar dan instrumen stabilisasi lainnya. Keputusan suku bunga akan sangat bergantung pada data inflasi domestik dan tekanan nilai tukar ke depan. Keputusan suku bunga biasanya diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.
Berapa lama tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlangsung?
Tekanan terhadap rupiah sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya negosiasi AS-Iran, serta data ekonomi AS yang mempengaruhi indeks dolar. Jika ketidakpastian global mereda dan data domestik membaik, tekanan bisa berkurang secara bertahap.