Dominasi Batu Bara di Pembangkit Listrik RI Belum Tergoyahkan, Porsi EBT Cuma 15 Persen

Penulis: Yasir  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 17:09:01 WIB
Pembangkit listrik berbasis batu bara mendominasi kapasitas terpasang di Indonesia sebesar 56 persen.

GORONTALO — Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Tri Winarno mengungkapkan, dari total kapasitas terpasang 108 GW, pembangkit listrik berbasis energi fosil mencapai 91,58 GW. Batu bara menjadi kontributor terbesar dengan porsi 56 persen atau setara 60,53 GW, disusul gas bumi 23 persen, dan bahan bakar minyak (BBM) 6 persen.

“Kalau kita dilihat dari jenis energi yang digunakan, pembangkit listrik masih didominasi energi fosil sebesar 91,58 GW atau 85 persen,” ujar Tri dalam rapat tersebut.

Produksi Listrik: Batu Bara Makin Meroket, EBT Justru Kelebihan Pasokan

Jika dilihat dari sisi produksi listrik, dominasi batu bara bahkan lebih nyata. Hingga April 2026, realisasi produksi listrik nasional mencapai 165,51 TWh. Batu bara menyumbang 64,87 persen, melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang sebesar 62 persen.

Gas bumi hanya berkontribusi 13 persen dan BBM 3,38 persen terhadap total produksi. Di sisi lain, produksi dari EBT justru menunjukkan kelebihan pasokan. Realisasinya mencapai 17,89 persen, lebih tinggi dari target RUKN sebesar 16,46 persen. Artinya, listrik hijau sudah tersedia, tapi pemanfaatannya belum optimal karena sistem kelistrikan masih digerakkan oleh batu bara.

Kinerja 2025: Gas Anjlok, EBT Melampaui Target

Tri juga membeberkan data produksi listrik sepanjang tahun 2025. Realisasi produksi nasional mencapai 494 TWh, dengan porsi batu bara sebesar 66,7 persen—kembali melampaui target RUKN 62 persen. Sementara itu, gas bumi anjlok drastis. Kontribusinya hanya 14,31 persen, padahal target awal di RUKN mencapai 20,5 persen.

“Gas lebih rendah dari target yang ada di RUKN yaitu 14,31 persen, target awalnya lebih 20,5 persen. Di sisi lain, EBT menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan dengan realisasi 16,31 persen, melampaui target sebesar 15,9 persen. Sementara itu, porsi BBM masih sebesar 2,67 persen,” jelas Tri.

Data ini menjadi sinyal bahwa transisi energi di Indonesia berjalan pincang. Di satu sisi, pembangkit EBT mulai berproduksi di atas target. Namun di sisi lain, ketergantungan pada batu bara bukannya menurun, malah semakin menguat—baik dari sisi kapasitas terpasang maupun realisasi produksi listrik.

Reporter: Yasir
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top