JENEWA — Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus secara resmi meminta negara-negara yang masih memberlakukan pembatasan perjalanan untuk mencabutnya. Permintaan itu disampaikan dalam konferensi pers di Jenewa, Rabu, dengan alasan bahwa kebijakan tersebut kontraproduktif terhadap upaya penanganan wabah.
Alih-alih larangan menyeluruh, WHO merekomendasikan pemeriksaan ketat saat keberangkatan di bandara, pelabuhan, dan perlintasan perbatasan. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk mencegah penyebaran kasus dan kontak ke luar wilayah tanpa menghentikan total mobilitas orang dan barang.
"Pembatasan perjalanan menyeluruh yang diberlakukan sejumlah negara mengganggu rantai pasok dan menghambat upaya penanganan," kata Ghebreyesus dalam pernyataannya.
WHO telah menyatakan wabah Ebola di DRC dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 15 Mei lalu. Menyusul keputusan itu, Kementerian Kesehatan Uganda memutuskan menutup perbatasannya dengan DRC pada akhir Mei karena situasi epidemiologis yang dinilai tidak menguntungkan.
Di sisi lain, Amerika Serikat berencana mengirim warga negaranya yang terinfeksi Ebola ke Kenya untuk perawatan. Namun, rencana itu terganjal setelah Pengadilan Tinggi Kenya melarang sementara masuknya orang yang terinfeksi virus tersebut ke negara itu pada 29 Mei.
Ebola adalah penyakit yang seringkali berakibat fatal dan ditularkan dari hewan liar seperti kelelawar dan primata ke manusia. Penularan antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh lainnya atau benda-benda yang terkontaminasi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan tingkat kematian rata-rata penyakit ini mencapai 50 persen. Angka tersebut bahkan pernah melonjak hingga 90 persen dalam wabah sebelumnya.