GORONTALO — Pertarungan sengit di Istora Senayan, Minggu (14/6/2026), berakhir pilu bagi Indonesia. Unggulan pertama asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, sukses membalikkan keadaan setelah nyaris kalah di gim kedua. Kekalahan ini memastikan Indonesia kembali hampa gelar juara di turnamen BWF Super 1000 tersebut untuk tahun kelima berturut-turut.
Pasangan Indonesia, Raymond/Joaquin, tampil dominan di awal laga. Mereka merebut gim pertama dengan skor telak 21-13 dan memimpin 14-8 di gim kedua. Keunggulan sembilan poin itu seolah menjadi jaminan kemenangan mudah.
Namun, Goh/Nur perlahan menemukan ritme. Mereka menyamakan kedudukan 14-14 dan merebut gim kedua 21-18. "Saya rasa kami main mengendalikan mereka hingga 14-8. Cuma saat mereka 1-2 poin, mungkin mereka melihat kita kayak sempat bingung," ungkap Joaquin dalam konferensi pers usai pertandingan.
Gim penentu menjadi milik mutlak Goh/Nur. Mereka mendominasi dan menutup laga dengan skor 21-10. "Jadi mereka sadar kami masih mencari cara. Mereka jeli sekali, mereka memanfaatkan itu dan membuat kami kehilangan poin terus-menerus," tambah Joaquin.
Raymond menilai pengalaman lawan menjadi faktor krusial. Goh Sze Fei/Nur Izzuddin dikenal sebagai pasangan dengan jam terbang tinggi di turnamen-turnamen besar. Hal itu membuat mereka lebih tenang saat tertekan.
"Pastinya mereka pemain berpengalaman di turnamen-turnamen besar. Kami harus lebih waspada lagi. Kalau belum selesai, konsentrasi harus ditambah lagi. Padahal kami sudah unggul duluan," tutur Raymond.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi bulu tangkis Indonesia. Selain Raymond/Joaquin, Jonatan Christie juga tumbang di partai final tunggal putra. Indonesia pun gagal membawa pulang satu gelar pun dari ajang bergengsi yang mereka gelar sendiri.
Terakhir kali Indonesia merasakan juara di Indonesia Open adalah pada edisi 2021. Kala itu, ganda putra legendaris Kevin Sanjaya/Marcus Gideon berhasil menjadi yang terbaik. Setelah itu, panggung juara selalu direbut wakil dari negara lain.
Hasil final Indonesia Open 2026 ini menjadi catatan pahit tersendiri. Momentum comeback yang dialami Raymond/Joaquin menunjukkan masih ada pekerjaan rumah besar dalam hal mental dan strategi saat pertandingan berlangsung ketat.