GORONTALO — Dorongan buyback ini muncul setelah Dasco bertemu dengan jajaran direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Ketua Badan Pengelola BUMN Dony Oskaria, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen. Dalam diskusi tersebut, ia menilai banyak emiten BUMN memiliki fundamental yang sehat, sehingga buyback menjadi opsi yang tepat untuk dilakukan.
“Saat berdiskusi bagaimana kemudian pada kesempatan yang tepat menurut saya, kita buyback atau membeli kembali saham-saham di pasar saham,” ujar Dasco di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ketua Umum Himbara Putrama Wahju Setyawan menegaskan, kondisi fundamental perbankan anggota Himbara saat ini sangat baik. Ia merinci rata-rata pertumbuhan kredit bank-bank Himbara berada di kisaran 20%, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 20% hingga 30%.
Putrama juga memastikan rasio kesehatan perbankan tetap terjaga. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di kisaran 88% hingga 90%, sementara Non-Performing Loan (NPL) rata-rata tercatat di bawah 2%. “Dapat kami sampaikan, saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa,” kata Putrama.
Respons pasar terhadap wacana ini terlihat jelas. Hingga pukul 11.28 WIB, IHSG melonjak 211 poin (3,96%) ke level 5.552. Saham bank pelat merah pun ikut terdongkrak: BBRI naik 5,02%, BMRI menguat 4,04%, BBNI naik 5,65%, BBTN melesat 8,57%, dan BRIS menguat 5,57%. Saham TLKM juga ikut terbang 9,79%.
Menurut Dasco, pelaksanaan buyback tidak hanya melibatkan bank Himbara. Ia menyebut kemungkinan skema ini juga akan melibatkan Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan Taspen sebagai investor potensial. Langkah ini diharapkan menjadi alternatif untuk menstabilkan pasar modal di tengah volatilitas yang terjadi belakangan ini.
Wacana buyback BUMN masih akan terus dikaji, menunggu momentum yang tepat agar dampaknya optimal bagi pasar dan para pemegang saham.