Pusat data yang dibangun oleh HiCloud Technology bersama BUMN China Communications Construction ini memiliki kapasitas awal 24 megawatt. Investasi yang digelontorkan mencapai 1,6 miliar yuan atau setara sekitar Rp 3,8 triliun.
Lokasinya berada di Zona Khusus Lin-gang, dalam Kawasan Perdagangan Bebas Shanghai. Kedalaman 10 meter dipilih karena suhu air laut yang stabil mampu menggantikan fungsi pendingin udara konvensional yang selama ini menjadi beban terbesar konsumsi listrik pusat data.
Efisiensi fasilitas ini diukur dengan metrik Power Usage Effectiveness (PUE) yang ditargetkan tidak lebih dari 1,15. Angka ini mendekati efisiensi teoretis sempurna di angka 1,0, dan menjadi tolok ukur baru dalam industri.
HiCloud sebenarnya sudah meresmikan pusat data bawah laut komersial pertama di dunia pada 2023 di Pulau Hainan. Namun, fasilitas Shanghai adalah yang pertama menggabungkan konsep tersebut dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.
Menurut pernyataan resmi pemerintah China, proyek ini dirancang menggunakan lebih dari 95 persen listrik hijau. Dibandingkan pusat data konvensional di darat, konsumsi energi berkurang 22,8 persen, sementara penggunaan air dan lahan ditekan hingga 100 persen dan lebih dari 90 persen.
Pembangunan UDC ini rampung pada pertengahan Oktober tahun lalu dan mulai beroperasi penuh dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah China ini tidak bisa dilepaskan dari perlombaan global membangun infrastruktur kecerdasan buatan. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat hanya 32 negara yang memiliki pusat data khusus AI, dan 90 persen kapasitasnya terkonsentrasi di China dan Amerika Serikat.
Kedua negara adidaya menempuh jalur berbeda dalam mengamankan pasokan energi untuk AI. Amerika Serikat cenderung mengurangi investasi transisi energi, sementara China justru mempercepat pengembangan energi terbarukan dan nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan pemasok luar negeri.
Undang-undang energi baru China yang mulai berlaku tahun lalu mewajibkan pemerintah menetapkan target konsumsi energi bersih minimum. Sejak Juni 2025, seluruh listrik dari tenaga surya dan angin wajib diperdagangkan melalui mekanisme pasar, menggantikan skema tarif tetap lama.
Proyek pusat data bawah laut ini bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Beijing memperkuat kemandirian industri dan teknologi. China, sebagai konsumen energi terbesar dunia, tengah menjajaki berbagai sumber mulai dari thorium, bismut, hingga percepatan pembangkit nuklir.
Dengan efisiensi energi yang terbukti dan sumber daya angin yang melimpah di pesisir timur, model UDC bertenaga angin berpotensi direplikasi di kawasan lain. Bagi Indonesia yang juga gencar membangun pusat data dan memiliki garis pantai panjang, pendekatan ini bisa menjadi referensi untuk menekan biaya operasional sekaligus memenuhi komitmen iklim.