GORONTALO — Penyerang berusia 32 tahun itu buka suara di tengah sorotan publik yang mempertanyakan strategi pelatih Thomas Tuchel. Banyak pihak menilai Inggris terlalu fokus mengalirkan bola ke satu target di kotak penalti, yaitu Kane, untuk memecah kebuntuan di turnamen yang akan digelar di Amerika Utara tersebut.
Namun, Kane menolak anggapan itu sebagai sesuatu yang negatif. Ia justru melihat fenomena ini sebagai konsekuensi logis dari memiliki striker top di lini depan.
Dalam wawancara dengan ITV, Kane membandingkan situasinya dengan negara lain. "Saya rasa setiap striker top di tim, akan ada ketergantungan pada striker untuk mencetak gol," ujarnya.
Ia mencontohkan Erling Haaland bersama Norwegia dan Kylian Mbappe bersama Prancis. "Ketika Anda memiliki pencetak gol utama di tim Anda, Anda diharapkan untuk mencetak gol. Itu tidak berarti itu hal yang buruk," tegas sang kapten Inggris.
Pernyataan ini keluar saat Inggris berambisi mengakhiri puasa gelar sejak 1966. Tekanan enam dekade itu otomatis membebani seluruh elemen tim, terutama lini depan yang dipimpin Kane.
Meski begitu, kehadiran Thomas Tuchel sebagai pelatih disebut telah mengubah pola permainan. Tim tidak lagi sekadar mengandalkan umpan silang ke kotak penalti seperti era sebelumnya.
Kane sendiri sedang dalam kondisi puncak bersama Bayern Munchen di kompetisi domestik. Performa impresifnya membuatnya tetap menjadi ujung tombak utama, namun Tuchel dikabarkan mulai meramu skema serangan yang lebih variatif.
Timnas Inggris dijadwalkan memulai kampanye Piala Dunia 2026 dengan skuad yang diperkuat pemain-pemain muda berbakat. Sorotan kini tertuju pada bagaimana Tuchel menyeimbangkan ketajaman Kane dengan kontribusi gol dari lini lain.