WASHINGTON — Rencana serangan baru ini diungkapkan oleh Fox News pada Rabu (10/6), mengutip pernyataan langsung dari Trump. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis bahwa Iran telah menunda pembicaraan dan negara itu kini "harus membayar harganya." Target serangan disebut-sebut bukan lagi sekadar fasilitas militer, melainkan infrastruktur sipil strategis seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Ketegangan terbaru ini merupakan puncak dari siklus serangan dan balasan yang telah berlangsung berbulan-bulan. Semuanya bermula ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap sebuah helikopter Apache milik AS.
Operasi militer AS itu menargetkan fasilitas pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan lokasi radar pengawasan di dekat Selat Hormuz. Iran tak tinggal diam dan melancarkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melakukan serangan besar-besaran ke target-target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan parah dan menewaskan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Tekanan internasional yang semakin tinggi akhirnya memaksa kedua pihak mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Namun, harapan untuk perdamaian abadi pupus setelah putaran pembicaraan lanjutan yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad berakhir tanpa satu pun terobosan.
Proses negosiasi saat ini masih berlangsung, namun fokus pembicaraan hanya berkutat pada penyelesaian kerangka nota kesepahaman. Di lapangan, kedua pihak masih saling melancarkan serangan terbatas secara sporadis. Eskalasi terbaru yang direncanakan Trump ini menandakan bahwa jalan diplomatik kembali menemui jalan buntu.
Berbeda dengan serangan sebelumnya yang fokus pada instalasi militer, rencana serangan baru ini menyasar infrastruktur sipil yang lebih vital. Pembangkit listrik dan jembatan adalah target yang akan melumpuhkan mobilitas dan pasokan energi Iran secara langsung. Langkah ini dinilai sebagai bentuk tekanan maksimal agar Iran kembali ke meja perundingan dengan syarat yang diajukan AS.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Pentagon mengenai waktu pasti pelaksanaan serangan. Namun, pernyataan Trump di media sosial kerap menjadi indikasi awal dari kebijakan luar negeri AS yang kontroversial.