GORONTALO — Teknologi di negeri adidaya ternyata bisa bermasalah. Itulah guyonan Mauricio Pochettino saat mikrofonnya mati di sesi latihan terbuka Timnas AS di Stadion Championship Soccer, Irvine, California, Senin (15/4). Di hadapan 5.500 fans yang memadati venue, pelatih asal Argentina itu tetap tersenyum dan berkelakar. “Kami berada di negara terhebat di dunia, tapi teknologinya tidak berfungsi,” ujarnya dalam aksen Inggris Rioplatense khasnya.
Pochettino diikat kontrak senilai 6 juta dolar AS per tahun—terbesar dalam sejarah federasi sepak bola AS. CV-nya mentereng: Paris Saint-Germain, Tottenham Hotspur, Chelsea. Namun dalam 22 bulan memimpin, catatannya baru 15 menang, 10 kalah, dan 1 imbang. Timnya tampil naik-turun: brilian di satu momen, lalai di momen lain.
“Saya yakin kami bisa menang,” kata Pochettino soal kans juara Piala Dunia, seperti dikutip Guardian. Ia kerap melontarkan kalimat retoris “Why not?”. Namun banyak pengamat justru melihat potensi AS tersingkir di fase grup atau babak 32 besar, seperti yang terjadi di Qatar 2022.
AS tergabung di Grup B bersama Paraguay, Australia, dan Turki. Tak satu pun lawan yang bisa dianggap enteng. Terlebih, AS masih kesulitan menghadapi tim-tim berkualitas yang akan mereka jumpai di babak gugur. Hasil uji coba melawan tim papan atas belum memberikan sinyal positif.
Christian Pulisic, bintang utama AS, menegaskan tekad timnya. “Kami ingin melakukan ini untuk diri sendiri dan negara. Kami punya pemain bagus di klub-klub top dunia. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membuktikan diri,” ujarnya kepada wartawan awal bulan ini.
Bagi Pochettino, tantangan terbesar bukan hanya taktik di lapangan, melainkan mengubah budaya olahraga di AS. “Hadiah pertama untuk anak Argentina adalah bola sepak. Di sini, tongkat bisbol, bola basket, atau bola oval,” katanya. “Mengubah itu tidak bisa hari ini atau besok. Tapi ada hampir 400 juta orang, 80 juta di antaranya Latin, yang sudah memiliki DNA sepak bola.”
Target jangka panjangnya jelas: membuat sepak bola tidak lagi sekadar olahraga pinggiran di negeri yang didominasi NFL, NBA, dan MLB. Penampilan yang melampaui capaian perempat final Piala Dunia 2002 bisa menjadi pintu masuk untuk mengalirkan investasi komersial dan perhatian publik yang lebih besar.
Sesi latihan terbuka di Irvine menjadi bukti bahwa antusiasme lokal sudah mulai tumbuh. Kantor walikota setempat mencatat lebih dari 30.000 orang mendaftar untuk tiket latihan gratis itu. Ribuan fans yang beruntung mendapat tiket bersorak, berfoto, dan antre tanda tangan pemain. “Mereka sudah menjadi cahaya terang,” kata seorang fans.
Namun di balik euforia itu, internet dipenuhi skeptisisme dari para penggemar setia program ini. Pertanyaan besarnya: apakah publik Amerika benar-benar bisa terhubung dengan para pemain ini? Dari trio masa kecil Pulisic, Weston McKennie, dan Tyler Adams, hingga pemain dual-national seperti Antonee Robinson dan Folarin Balogun—mampukah mereka menjadi nama yang dikenal di setiap rumah tangga AS?
Jawabannya akan mulai terjawab saat Piala Dunia 2026 bergulir. Bagi AS, ini bukan sekadar turnamen. Ini adalah pernyataan eksistensi. (dkr)