Bungie Tutup Kisah Destiny 2 Tanpa Rencana Destiny 3, Masa Depan Guardian di Ujung Tanduk

Penulis: Saiful  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 05:08:32 WIB
Bungie mengumumkan Destiny 2 akan berakhir tanpa rencana pengembangan Destiny 3.

Angka tiga memiliki makna sakral dalam semesta Destiny. Tiga elemen, tiga kelas karakter, dan tiga pemain dalam satu Fireteam adalah fondasi yang membangun identitas game ini selama sepuluh tahun terakhir. Namun, pola yang sudah mapan itu kini patah. Saat Destiny 2 memasuki babak penutupnya yang sesungguhnya dengan The Final Shape, Bungie memilih bungkam soal keberadaan Destiny 3.

Warisan yang Ditinggalkan di Bulan dan di Luar Angkasa

Lore Destiny sejak awal dibangun di atas misteri yang belum terpecahkan. Salah satu yang paling ikonik adalah kutipan "The moon is haunted" — sebuah kalimat yang menjadi pintu masuk ke salah satu misi paling berkesan di seri pertama. Tapi kali ini, Bungie benar-benar meninggalkan bulan itu dalam keheningan.

Keputusan untuk tidak mengumumkan sekuel baru bukanlah hal yang mengejutkan bagi mereka yang mengikuti dinamika industri. Sejak akuisisi oleh Sony senilai $3,6 miliar, Bungie telah melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja yang mempengaruhi ratusan karyawan. Fokus studio tampak bergeser dari ekspansi naratif Destiny ke proyek-proyek baru seperti Marathon, sebuah game extraction shooter yang diumumkan tahun lalu.

Fireteam Tanpa Masa Depan Jelas

Dalam narasi game, Guardian adalah prajurit yang tak bisa mati — dibangkitkan oleh cahaya Traveler untuk melindungi umat manusia. Namun di dunia nyata, kelangsungan hidup mereka sepenuhnya bergantung pada keputusan bisnis Bungie. Tanpa janji Destiny 3, basis pemain yang telah menginvestasikan ribuan jam dan ratusan dolar untuk konten digital kini dihadapkan pada pertanyaan sulit: apakah perjalanan ini benar-benar berakhir?

Komunitas Destiny dikenal sangat vokal. Forum-forum seperti Reddit dan Discord kini dipenuhi spekulasi dan kekhawatiran. Beberapa pemain veteran menyebut situasi ini sebagai "The Long Goodbye" — sebuah proses perlahan di mana Bungie mungkin akan terus merilis konten musiman tanpa pernah memberikan resolusi naratif yang memuaskan.

Apa Artinya bagi Pemain di Indonesia?

Bagi penggemar Destiny di Indonesia, kabar ini mungkin terasa lebih pahit. Akses ke server dan pembelian konten melalui platform seperti Steam dan PlayStation Store sudah menjadi kebiasaan. Tanpa kepastian seri baru, banyak yang mulai mempertanyakan apakah layak terus berinvestasi pada Season Pass atau ekspansi kecil yang mungkin tidak akan berujung pada klimaks yang layak.

Beberapa komunitas lokal di grup WhatsApp dan Discord mulai mengatur jadwal "Last Stand" — sesi bermain bersama terakhir sebelum akhirnya beralih ke game lain seperti Warframe atau The First Descendant, yang menawarkan model live-service serupa namun dengan peta jalan yang lebih transparan.

Bungie di Persimpangan Jalan

Bungie bukan lagi studio independen yang bisa mengambil risiko kreatif tanpa tekanan pemegang saham. Di bawah Sony, setiap keputusan harus diukur dari potensi keuntungan jangka panjang. Destiny mungkin masih menghasilkan pendapatan yang stabil dari pembelian mikro dan ekspansi, tetapi tidak cukup untuk menjamin investasi besar untuk sekuel baru.

Pada akhirnya, Destiny 2 akan terus hidup sebagai game — setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Tapi jiwa dari franchise ini, yang dibangun di atas misteri, angka tiga, dan harapan akan petualangan baru, tampaknya telah memasuki fase terakhirnya. Bagi para Guardian yang tersisa, satu hal menjadi jelas: bulan memang berhantu, tapi yang lebih menghantui adalah ketiadaan masa depan.

Reporter: Saiful
Sumber: xda-developers.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top