GORONTALO — Konfirmasi dukungan tersebut disampaikan Marketing Communications & Public Relations Arema FC, Munif Wakid, dan Manager Operasional Sudarmaji di Malang, Jumat (19/6/2026). Keduanya menegaskan bahwa Munas II bukan sekadar agenda seremonial, melainkan panggung strategis untuk memperkuat sinergi antara klub dan basis suporter.
Munas II mengusung agenda padat: evaluasi kinerja Presidium periode pertama, penyusunan program kerja ke depan, dan puncaknya pemilihan jajaran Presidium baru. Sudarmaji menilai dua tahun pertama adalah fase merancang fondasi, sementara dua tahun ke depan harus menjadi fase eksekusi program yang nyata.
“Program kerja yang sudah ada tidak boleh mandek di atas kertas. Harus diimplementasikan dan disempurnakan,” ujar Sudarmaji dalam pernyataannya.
Sudarmaji melemparkan dua gagasan segar ke dalam forum Munas. Pertama, soal pemberdayaan ekonomi anggota Aremania Utas. Ia mendorong terbentuknya zona ekonomi eksklusif yang membuat suporter tidak hanya menjadi konsumen tiket, tetapi juga pelaku perputaran uang di industri sepak bola Malang Raya.
Kedua, pembinaan perilaku positif yang harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan. Ia bahkan melempar ide radikal: memasukkan pembinaan perilaku suporter ke dalam kurikulum pendidikan formal di sekolah-sekolah. “Ini butuh kerja keroyokan dengan para pemangku kebijakan di Malang Raya,” tegasnya.
Munif Wakid berharap sidang-sidang di Selecta melahirkan keputusan yang cerdas dan demokratis. “Mari terus menjaga soliditas, menjunjung tinggi nilai kebersamaan, serta bersama-sama mendukung kemajuan Arema yang kita cintai,” urai Munif.
Baginya, Munas II adalah momentum emas untuk memperkuat konsolidasi organisasi. Manajemen Arema FC pun memastikan dukungan penuh alias all out terhadap jalannya forum tertinggi suporter ini.
Sinergi antara Arema FC dan Aremania Utas kini tengah diuji di Hotel Selecta. Dua tahun ke depan, arah kebijakan suporter bakal ditentukan di forum ini. Manajemen berharap Munas II menjadi bukti bahwa Malang tidak hanya melahirkan fanatisme, tetapi juga peradaban suporter yang modern dan mandiri.