GORONTALO — Temuan ikan coelacanth di perairan Gorontalo pada tahun lalu tidak berhenti pada momen penemuan semata. Spesies yang dianggap sebagai fosil hidup ini terus dikaji oleh peneliti dari berbagai institusi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Ikan yang memiliki nama latin Latimeria menadoensis itu pertama kali menggegerkan publik saat ditemukan nelayan di perairan utara Gorontalo. Sejak saat itu, spesimen yang diawetkan menjadi bahan studi untuk memahami mekanisme evolusi dan adaptasi lingkungan purba.
Peneliti dari Universitas Sam Ratulangi Manado mencatat bahwa Gorontalo menjadi salah satu lokasi penemuan coelacanth di Indonesia. Dua spesimen pernah ditemukan di perairan sekitar, dan satu di antaranya menjadi koleksi penelitian yang masih aktif dikaji.
“Coelacanth adalah jendela ke masa lalu. Dengan mempelajari gennya, kami bisa melihat bagaimana ikan ini bertahan tanpa banyak berubah selama 400 juta tahun,” ujar seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang terlibat dalam studi tersebut.
Fokus utama riset saat ini adalah analisis genom coelacanth untuk mencari tahu mekanisme adaptasinya terhadap tekanan lingkungan. Selain itu, tim peneliti juga memetakan habitat asli ikan ini di kedalaman laut Gorontalo.
Data dari penelitian diharapkan menjadi dasar kebijakan konservasi. Sebab, coelacanth termasuk spesies langka yang rentan terhadap perubahan suhu laut dan aktivitas penangkapan ikan.
Peneliti berharap temuan ini bisa mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan kawasan konservasi laut di titik-titik kemunculan coelacanth. Langkah itu dinilai penting untuk melindungi spesies purba ini dari kepunahan.
Hingga kini, ikan coelacanth Gorontalo masih menjadi salah satu ikon riset kelautan Indonesia. Publikasi ilmiah terkait temuan ini telah masuk ke jurnal internasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam studi biodiversitas laut global.