GORONTALO — Pelatihan berlangsung di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas seluas 7.000 meter persegi. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, mengatakan kondisi tanah di Balikpapan memiliki tingkat kesuburan rendah. Karena itu, warga binaan dibekali teknik regenerasi tanah bekas media tanam dan pembuatan pestisida alami.
“Program Tanggung Jawab Sosial ini berfokus pada penciptaan kemandirian masyarakat. Kami berharap para warga binaan memiliki bekal keterampilan yang kuat,” ujar Edi.
Pertamina membangun fasilitas greenhouse berukuran 22 x 11 meter di area SAE. Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Balikpapan, Setyo D. Moko, mengapresiasi dukungan itu. “Kami bersama warga binaan berhasil melaksanakan panen raya perdana melon dengan hasil terbesar mencapai sekitar 400 kilogram,” katanya.
Selain melon, kawasan SAE kini membudidayakan kangkung, sawi, cabai, dan pisang. Sektor perikanan dan peternakan ayam juga dijalankan berdampingan.
Pertamina menyalurkan mesin sprayer tanaman, pupuk kandang, sekam, bahan pestisida alami, dan ember fermentasi pupuk. Bantuan ini diharapkan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat program ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Pelatihan pembenahan tanah menjadi kunci menjaga keberlanjutan budidaya melon yang rentan hama. Warga binaan yang mengikuti program telah memasuki masa asimilasi. Setelah bebas, mereka diharapkan membentuk komunitas produktif dan membuka peluang ekonomi mandiri.
Pendampingan Pertamina ke Lapas Balikpapan telah berjalan sejak 2022, awalnya berfokus pada pengelolaan limbah. Mulai 2025, fokus diperluas ke sektor pertanian sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.