Lux Claridge, guru fisika di Emporia, menjadi korban dari aturan ketat yang diterapkan dalam rapat Komisi Kota Emporia yang membahas perubahan zonasi untuk proyek Flint Hills Digital Campus. Fasilitas ini direncanakan sebagai data center berkekuatan gigawatt di lahan seluas 1.000 acre—setara dengan 400 hektar lebih.
Dalam rapat yang digelar pekan lalu tersebut, para peserta telah diperingatkan untuk tidak bertepuk tangan atau bahkan menjentikkan jari sebagai bentuk persetujuan. Aturan ini langsung diterapkan secara kaku.
Ketika seorang warga selesai berpidato dengan kalimat penutup "kami adalah rakyat, dan meja ini milik kami," Claridge secara spontan bertepuk tangan. Petugas yang memimpin rapat langsung memerintahkan Kepala Polisi Ed Owens, "Kepala, keluarkan orang berikutnya yang bertepuk tangan atau melakukan apa pun. Terima kasih."
Video yang beredar di media sosial menunjukkan Claridge keberatan sambil menyatakan dirinya memiliki hak untuk bertepuk tangan. Polisi kemudian mengeroyoknya. "Saya harus diseret keluar," katanya, sebelum akhirnya digotong keluar ruangan dalam keadaan tangan diborgol.
Setelah dibebaskan, Claridge mengaku kepada stasiun TV lokal KWCH bahwa dirinya "senang bisa bebas—meski ini sangat merepotkan. Tapi ini tidak membuat saya jera untuk bersuara, atau bertepuk tangan."
Departemen Kepolisian Emporia membela tindakan anggotanya dengan menyatakan pihaknya "berkomitmen memastikan rapat publik berlangsung aman dan tertib, sembari menghormati hak semua warga untuk berpartisipasi dalam proses sipil."
Namun, Koalisi Amandemen Pertama (First Amendment Coalition) menegaskan bahwa dewan kota tidak bisa memperlakukan semua tepuk tangan sebagai tindakan disruptif secara otomatis. "Gangguan yang sesungguhnya berarti gangguan yang sesungguhnya," tulis koalisi tersebut, menekankan bahwa tepuk tangan singkat yang tidak mengganggu jalannya rapat seharusnya dilindungi sebagai bentuk ekspresi.
Penolakan terhadap data center di kawasan ini bukan tanpa alasan. Warga setempat khawatir proyek raksasa tersebut akan menyedot sumber daya air dan listrik dalam jumlah besar, serta mengubah lanskap pedesaan Kansas secara permanen.
Di sisi lain, suara-suara yang menolak data center kerap dihadapkan pada tuduhan berat. Beberapa pihak mengklaim bahwa perlawanan terhadap pembangunan pusat data justru merugikan ekonomi dan keamanan nasional. Bahkan, Fox News dilaporkan membandingkan aksi protes ini dengan demonstrasi menentang pabrik tank dan pesawat pada masa Perang Dunia II—sebuah analogi yang dinilai berlebihan oleh banyak pihak. Tuduhan lebih jauh menyebutkan bahwa gerakan ini didalangi oleh kampanye dari China.
Terlepas dari kontroversi dan penangkapan yang terjadi, hasil akhir rapat tidak berubah. Komisi Kota Emporia tetap menyetujui perubahan zonasi yang diperlukan untuk pembangunan Flint Hills Digital Campus. Bagi Claridge, tepuk tangannya mungkin tidak mengubah keputusan, tapi setidaknya ia telah menegaskan bahwa suara warga—sekecil apa pun bentuknya—tidak boleh dibungkam dengan tuduhan dan ancaman penjara.