GORONTALO — Spekulasi soal kembalinya Apple ke presentasi panggung langsung (live keynote) untuk peluncuran iPhone tahun ini mulai menguat. Pemicunya adalah unggahan Mark Gurman dari Bloomberg yang memakai frasa "in-person" dalam tulisannya. Sebagian penggemar menafsirkannya sebagai isyarat acara tatap muka penuh.
Namun, analisis terhadap kebiasaan perusahaan dan pernyataan internal menunjukkan skenario itu kecil kemungkinannya. Apple justru diprediksi semakin mematangkan format hibrida yang berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak pandemi, Apple meninggalkan presentasi panggung tradisional dan beralih ke video pra-rekam untuk keynote WWDC dan peluncuran iPhone. Meski audiens sudah diizinkan hadir di Apple Park, presentasi inti tetap berupa tayangan video yang dipoles. Eksekutif hanya muncul untuk memperkenalkan segmen-segmen tertentu.
Format hibrida ini memberi keuntungan ganda: kegembiraan dari reaksi penonton langsung serta kontrol penuh atas alur dan tempo presentasi. Risiko kegagalan demo perangkat di atas panggung, yang kerap terjadi di era Steve Jobs, juga bisa diminimalisir.
Faktor lain yang memperkuat prediksi ini adalah posisi John Ternus yang dipersiapkan menggantikan Tim Cook sebagai CEO. Melakukan presentasi live penuh pada debutnya sebagai pemimpin perusahaan adalah perjudian besar yang tidak perlu diambil. Kegagalan teknis di panggung bisa menjadi sorotan negatif di momen penting tersebut.
Kendati demikian, ada dua alasan kuat yang membuat elemen live di acara tahun ini berpotensi lebih dinamis. Pertama, kehadiran iPhone Ultra yang disebut-sebut sebagai perubahan terbesar lini iPhone sejak iPhone X. Jika Apple menggelar panel diskusi setelah pemutaran video utama, seperti yang dilakukan di WWDC 2025, antusiasme di ruangan dipastikan tinggi.
Kedua, gaya kepemimpinan Ternus yang lebih santai dibanding Cook. Perbedaan pendekatan ini kemungkinan besar akan terasa pada sesi tanya jawab dan interaksi informal dengan awak media serta pengembang selama sesi hands-on. Atmosfer yang lebih cair membuat sesi tersebut terasa lebih manusiawi dan spontan.
Soal frasa "in-person" yang memicu spekulasi, perlu diluruskan bahwa staf ritel Apple selalu hadir dalam setiap acara untuk membantu jalannya operasional. Tugas mereka meliputi pengaturan antrean, check-in tamu, hingga pendampingan saat demo perangkat. Kehadiran mereka bukanlah indikasi perubahan format acara.
Hingga saat ini, Apple belum memberikan konfirmasi resmi mengenai format pasti acara peluncuran iPhone berikutnya. Yang jelas, perusahaan tampaknya telah menemukan formula yang nyaman: presentasi video sinematik dipadukan dengan elemen live untuk menjaga koneksi dengan audiens.
Bagi pengguna di Indonesia, peluncuran iPhone Ultra akan menjadi momen yang patut dinantikan. Selain membawa perubahan desain dan spesifikasi, kehadirannya juga akan mempengaruhi lini produk lain seperti iPhone Pro dan model standar. Keputusan Apple mengenai format acara memang tidak mengubah spesifikasi perangkat, tetapi menentukan bagaimana jutaan penonton di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan momen perkenalan resmi produk tersebut.