GORONTALO — Film bertema pemberantasan korupsi selalu relevan karena menyajikan konflik yang dekat dengan realitas: penyalahgunaan kekuasaan, intrik politik, dan perjuangan melawan sistem yang sudah terlanjur busuk. Bedanya, di layar lebar, keadilan selalu punya kesempatan untuk menang.
Karakter antagonis dalam film-film ini bukan sekadar pejabat yang menyalahgunakan wewenang. Mereka mengendalikan polisi, birokrasi, hingga jaringan politik yang seharusnya menjadi penegak hukum. Justru di situlah letak kepuasan menonton ketika akhirnya mereka tumbang.
Thriller politik garapan Allen Hughes ini mempertemukan dua aktor papan atas, Mark Wahlberg dan Russell Crowe. Wahlberg berperan sebagai Billy Taggart, mantan anggota kepolisian New York yang beralih profesi menjadi detektif swasta setelah kariernya hancur akibat kasus kontroversial.
Wali Kota Nicholas Hostetler (Crowe) kemudian menyewanya untuk menyelidiki dugaan perselingkuhan istrinya. Namun, investigasi itu perlahan membuka rahasia yang jauh lebih berbahaya dari sekadar masalah rumah tangga.
Taggart menemukan bahwa Hostetler terlibat permainan kotor terkait penjualan kawasan Bolton Village. Proyek itu akan membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal sementara segelintir orang meraup keuntungan besar. Hostetler bahkan memiliki kartu untuk membungkam Taggart.
Akhirnya, sang mantan polisi memilih mengorbankan keselamatannya demi menyerahkan bukti rekaman pengakuan wali kota. Polisi datang ke kediaman Hostetler dan menangkapnya, mengakhiri kekuasaan politik yang selama ini menjadi tamengnya.
Film India ini menawarkan sudut pandang berbeda dalam pemberantasan korupsi. Tokoh utamanya bukan polisi bersenjata, melainkan Amay Patnaik, seorang petugas pajak yang terkenal tegas dan sulit disuap, diperankan oleh Ajay Devgn.
Amay mendapat informasi mengenai kekayaan ilegal milik Rameshwar Singh alias Tauji, anggota parlemen berpengaruh dengan jaringan politik yang sangat kuat. Ia kemudian memimpin penggerebekan besar di rumah sang politikus untuk mencari aset yang tidak pernah dilaporkan.
Semakin banyak kekayaan tersembunyi ditemukan, semakin agresif pula Tauji menggunakan kekuasaannya untuk menghentikan operasi tersebut. Ia mengerahkan koneksi politik hingga orang-orangnya untuk menyerang tim Amay. Namun, perhitungannya keliru.
Operasi berhasil diselesaikan dan Rameshwar akhirnya diborgol serta ditangkap. Bagian akhir film memperlihatkan ia di penjara sambil bertanya-tanya siapa yang telah membocorkan rahasianya kepada petugas pajak.
Film Bollywood 2001 ini menyajikan fantasi politik yang menarik. Shivaji Rao, seorang jurnalis televisi, awalnya hanya ingin mempertanyakan kebijakan pemerintah kepada Chief Minister Balraj Chauhan dalam sebuah wawancara langsung.
Shivaji berhasil membuat Chauhan kesulitan menjawab tudingan mengenai ketidakbecusan dan korupsi pemerintahannya. Sang politikus kemudian menantangnya mengambil alih jabatan Chief Minister selama satu hari untuk membuktikan bahwa memimpin tidak semudah mengkritik.
Tantangan itu justru menjadi awal kehancuran Chauhan. Shivaji menggunakan satu hari kekuasaannya untuk mengambil tindakan terhadap pejabat tidak kompeten dan korup, bahkan memerintahkan penangkapan Chauhan sendiri.
Setelah kembali berkuasa, Chauhan membalas dengan berbagai intrik, tetapi popularitas Shivaji membuatnya kalah dalam pemilu. Konflik memuncak ketika Chauhan mencoba menembak Shivaji di gedung pemerintahan, lalu ditembak mati oleh petugas keamanan.
Bagi yang mencari aksi lebih eksplosif, Singham (2011) menjadi pilihan yang pas. Bajirao Singham adalah polisi jujur yang berhadapan dengan Jaikant Shikre, gangster sekaligus politikus berpengaruh yang menggunakan koneksi dan kekerasan untuk mempertahankan kerajaan kriminalnya.
Jaikant bahkan pernah menjebak polisi bernama Rakesh Kadam dengan tuduhan korupsi. Konfrontasi antara Singham dan Jaikant menjadi bumbu utama film yang disutradarai Rohit Shetty ini, dengan aksi laga khas Bollywood yang megah.
Keempat film di atas sama-sama menegaskan satu hal: kekuasaan yang disalahgunakan pada akhirnya akan berhadapan dengan konsekuensinya. Meski jalan menuju keadilan sering berliku, kepuasan melihat pejabat korup menerima hukuman tetap menjadi daya tarik utama genre ini.