GORONTALO — Sebuah scoping review yang menganalisis 64 penelitian menemukan smartwatch paling sering dipakai untuk mengukur langkah kaki dan total waktu tidur. Bagi Gen Z, perangkat di pergelangan tangan itu berubah fungsi dari aksesori gaya menjadi pengingat harian soal aktivitas dan istirahat.
Perhatian terhadap kesehatan lewat perangkat wearable bukan lagi monopoli generasi tua. Kalangan muda kini memakai jam pintar untuk hal yang lebih praktis: menghitung langkah, mencatat durasi olahraga, sampai memantau pola tidur tanpa perlu alat terpisah.
Temuan itu diperkuat sebuah scoping review yang terbit pada 2026 dan menganalisis 64 penelitian. Studi tersebut menempatkan langkah kaki dan total waktu tidur sebagai dua variabel yang paling sering diukur pengguna smartwatch.
Smartwatch memang masih dijual dengan bahasa desain dan gaya. Tapi pola pemakaian di kalangan Gen Z bergeser. Perangkat yang sama dipakai untuk mengecek apakah tubuh cukup bergerak setelah seharian duduk, atau melihat bagaimana jam tidur berubah dari satu pekan ke pekan lain.
Yang membuat kebiasaan ini bertahan bukan fiturnya yang canggih, melainkan karena pemantauan menempel di benda yang sudah dipakai tiap hari. Tidak ada langkah tambahan, tidak ada alat baru yang harus diingat.
Dua metrik itu menang karena paling mudah dipahami tanpa latar belakang medis. Jumlah langkah memberi gambaran kasar seberapa aktif seseorang, sementara durasi tidur menunjukkan apakah waktu istirahat cukup atau justru berantakan.
Kombinasi data ini membuat pengguna bisa mengenali polanya sendiri. Misalnya sadar bahwa tiga hari terakhir waktu duduk jauh lebih panjang dari biasanya, atau jam tidur bergeser makin malam.