Sampoerna Latih 108.000 UMKM Sejak 2007, Omzet SRC Tembus Rp251 Triliun

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:06:01 WIB
Pelatihan UMKM Sampoerna Entrepreneurship Training Center di Jakarta pada 29-30 September 2026.

GORONTALO — Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) mencatat lebih dari 108.000 pelaku UMKM telah dilatih sejak 2007, dengan ekosistem Sampoerna Retail Community (SRC) membina 250.000 toko kelontong beromzet Rp251 triliun per tahun. Capaian itu setara 9,46 persen dari PDB ritel nasional 2025. Lewat bootcamp di Jakarta, Sampoerna memperluas pendampingan ke 180 UMKM binaan dan 50 Jakpreneur.

PT HM Sampoerna Tbk memperkuat pendampingan UMKM melalui ekosistem SETC yang mencakup pelatihan, akses pasar, dan jejaring Collaborator Hub. Director of Stakeholder Relations and Sustainability Sampoerna, Romulus Sutanto, menegaskan kolaborasi dan transfer pengetahuan menjadi kunci agar pelaku usaha kecil mampu berkembang berkelanjutan.

Bootcamp UMKM untuk Indonesia (UUI) 2026 bertema "Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global" digelar SETC pada 29-30 September 2026 di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 180 pelaku UMKM binaan SUI/SETC dari seluruh Indonesia dan 50 UMKM Jakpreneur.

Jejaring Collaborator Hub di 17 Provinsi

SETC mengembangkan Collaborator Hub sebagai jejaring penggerak pemberdayaan UMKM di tingkat lokal. Saat ini terdapat 30 Collaborator Hub yang tersebar di 17 provinsi dan mendampingi lebih dari 2.300 UMKM secara berkelanjutan.

Jejaring tersebut menjalankan pendampingan berbasis praktik, membangun kolaborasi antarpelaku usaha, serta membantu akses pasar. Pendekatan ini memperluas dampak ekonomi di daerah.

Romulus menilai pelaku UMKM yang sudah berkembang dapat membagikan pengalaman kepada pengusaha lain. Efek berantai dari proses itu berpotensi menjangkau keluarga hingga komunitas sekitar usaha.

"Bayangkan, ada berapa jumlah kepala keluarga yang Bapak dan Ibu bantu semua di sini. Itu yang membuat saya merinding," kata Romulus kepada para Collaborator Hub yang hadir.

Falsafah Tiga Tangan Jadi Landasan Pemberdayaan

Romulus memperkenalkan Falsafah Tiga Tangan sebagai landasan Sampoerna menjalankan bisnis dan program pemberdayaan. Ketiga prinsip itu meliputi menghasilkan produk berkualitas bagi konsumen dewasa, memberikan nilai kepada pemangku kepentingan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Prinsip tersebut dinilai relevan bagi UMKM, terutama ketika produk lokal mulai diarahkan ke pasar yang lebih luas. Semangat berbagi dan gotong royong dipercaya memperluas manfaat pengembangan usaha ke lebih banyak pelaku UMKM dan komunitas.

"Semakin banyak menabur, semakin banyak kita menuai," ujar Romulus.

Kisah Nurul dan Ovi dari Daerah

Collaborator Hub asal Balikpapan, Nurul Ahdaniyah, mengembangkan minuman herbal Bungas Wedang Dayak melalui PT Bungas Food Nusantara. Usaha itu bermitra dengan 10 kelompok tani yang menanam bawang dayak.

Melalui SETC, Nurul mempelajari cara ekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Nigeria, dan Australia. Dia berharap produk berbasis bawang dayak memperoleh pasar yang semakin luas.

"Melalui SETC ini saya bisa sharing dengan teman-teman bagaimana usaha bisa berkembang. Dan memang benar, ketika kita menanam kebaikan, kita akan menuai," kata Nurul.

Cerita lain datang dari Collaborator Hub asal Kebumen, Novita (Ovi), melalui Komunitas Pelepah Berdaya. Komunitas itu memanfaatkan limbah pelepah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi dan membagikan ilmu lewat pelatihan kepada warga lembaga pemasyarakatan.

"Saya itu grassroot, langsung ke masyarakat bawah banget, karena saya membina warga lembaga pemasyarakatan," ujar Ovi.

Ekspansi Pasar Lewat Pameran Internasional

SETC memfasilitasi penetrasi ekspor UMKM, termasuk ke Tiongkok melalui The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair 2026. Fasilitasi itu bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta.

Pengusaha binaan SETC juga berpartisipasi di Jakarta International Investment, Trade, Tourism and SMEs Expo (JITEX). Langkah ini memperluas akses pasar bagi produk UMKM binaan.

Ekosistem SETC diperkuat SRC yang membina lebih dari 250.000 toko kelontong dengan total omzet Rp251 triliun per tahun. Angka itu setara 9,46 persen dari PDB ritel nasional 2025.

Romulus mengakui semangat serupa ditemuinya selama 18 tahun membina ekosistem SRC. Sejumlah pemilik toko kelontong anggota SRC bersedia mendampingi toko lain meski menjual produk serupa yang berpotensi menjadi pesaing.

Praktik itu menunjukkan kolaborasi tidak harus berhenti ketika pelaku usaha berhadapan dengan kompetisi. Kegiatan bootcamp ini menjadi bagian dari Program Keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia" dalam membangun ekosistem kewirausahaan jangka panjang.

Reporter: Sutomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top