GORONTALO — Kawasan Pecinan Kota Gorontalo tampil berbeda pada Jumat (25/9/2026). Etnis Tionghoa setempat bersama Klenteng Tulus Harapan Kita menggelar Mooncake Festival, perayaan tahunan yang kali ini melibatkan lebih banyak pihak di luar komunitas Tionghoa.
Selain menyajikan aneka kue bulan dan sajian khas, festival membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk berjualan. Sejumlah pedagang menawarkan produk halal, memberi warna tersendiri pada perayaan yang biasanya identik dengan tradisi Tionghoa.
Apa Itu Mooncake Festival dan Mengapa Digelar pada September?
Mooncake Festival atau Festival Kue Bulan merupakan perayaan tradisional masyarakat Tionghoa yang jatuh setiap tanggal 15 bulan kedelapan kalender lunar. Tanggal tersebut dipilih karena bulan berada pada fase purnama paling penuh dan terang, menandai puncak musim gugur sekaligus masa panen.
Kue bulan yang berbentuk bulat menjadi simbol utama perayaan. Bentuknya melambangkan kesempurnaan dan keutuhan keluarga, makna yang tetap bertahan meski anggota keluarga terpisah jarak.
Nilai syukur yang semula melekat pada konteks agraris — berterima kasih atas hasil panen — bergeser ke konteks sosial yang lebih luas. Kini perayaan itu dimaknai sebagai ungkapan syukur atas keluarga yang utuh, alasan festival ini tetap relevan di tengah masyarakat yang beralih dari agraris ke modern.
UMKM Lokal dan Produk Halal Ramaikan Perayaan
Kehadiran pelaku UMKM lokal membuat Mooncake Festival di Kota Gorontalo berbeda dari perayaan serupa di daerah lain. Festival tidak berhenti sebagai ajang memperkenalkan tradisi Tionghoa, tetapi juga menjadi etalase bagi produk usaha daerah.
Interaksi antara pedagang dan pengunjung memperlihatkan bagaimana sebuah perayaan budaya dapat berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat. Produk halal yang dijual di lokasi menjadi penanda bahwa tradisi Tionghoa dan kehidupan sosial warga Gorontalo dapat berjalan berdampingan.
Peserta festival datang dari berbagai latar belakang. Mereka tidak hanya menikmati kue bulan, tetapi juga berinteraksi dengan pedagang lokal yang menjajakan dagangan di sekitar kawasan Pecinan.
Akulturasi Tradisi Tionghoa di Tengah Keberagaman Gorontalo
Tradisi Tionghoa yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak berhenti sebagai perayaan komunitas tertutup. Di Kota Gorontalo, tradisi itu tumbuh menjadi bagian dari ruang interaksi yang lebih luas, melibatkan warga di luar etnis Tionghoa.
Kehadiran UMKM lokal, termasuk yang menjual produk halal, menunjukkan adanya perjumpaan antara tradisi budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Festival menjadi contoh bagaimana keberagaman di Gorontalo dirawat melalui kegiatan yang bersifat terbuka.
Selain menikmati sajian khas, pengunjung membawa pulang pesan tentang pentingnya menjaga hubungan keluarga, membangun persahabatan, serta merawat kebersamaan di tengah perbedaan. Dari jantung Pecinan Kota Gorontalo, Mooncake Festival menjadi momentum merayakan tradisi sekaligus memperkuat semangat hidup bersama.