Rupiah Diprediksi Melemah, Minyak Bertengger di US$105 per Barel

Penulis: Yasir  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:36:01 WIB
Nilai tukar rupiah diprediksi melemah seiring harga minyak mentah yang bertahan di atas US$105 per barel.

GORONTALO — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, Selasa (13/10/2026), seiring harga minyak mentah yang belum kunjung mereda. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah terdepresiasi dan bertengger di Rp17.952/US$.

Tekanan eksternal dari harga minyak membuat alarm inflasi global terus menyala. Pagi ini, minyak Brent dibanderol US$105,85 per barel, meskipun turun 0,75% dari posisi sebelumnya. Posisi harga minyak yang terus tinggi menahan laju penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Pergerakan di pasar valuta Asia relatif beragam. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan China melemah terbatas. Namun yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong berhasil defensif dan berada di zona hijau.

Indeks Dolar AS Terseret Ekspektasi Inflasi

Indeks dolar Amerika Serikat ikut terseret kenaikan harga minyak lantaran ekspektasi inflasi kembali meninggi. Mengacu Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed ke 4-4,25% berubah menjadi 20,5% dari sebelumnya 17%.

Sementara itu, probabilitas suku bunga The Fed tetap di 3,75-4% menurun menjadi 79,5%. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter lanjutan jika tekanan inflasi berlanjut.

Obligasi Pemerintah AS Sedikit Melandai

Meski begitu, obligasi pemerintah AS sedikit melandai. Yield tenor 10 tahun berada di kisaran 5,22% setelah terpangkas 1,7 basis poin (bps).

Penurunan yield diikuti obligasi pemerintah China yang menurun 1,4 bps ke 1,64%, serta obligasi Inggris turun 0,2 bps menjadi 5,43%. Pergerakan ini mencerminkan pasar obligasi masih mencerna kombinasi tekanan inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor, pelemahan rupiah berpotensi menekan imbal hasil aset berdenominasi rupiah. Pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS perlu mencermati risiko kenaikan biaya pembayaran bunga dan pokok.

Importir bahan baku juga menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi jika rupiah terus melemah. Sebaliknya, eksportir komoditas berpotensi menikmati keuntungan dari selisih kurs selama harga minyak dan komoditas lain tetap tinggi.

Faktor yang Perlu Dicermati Hari Ini

  • Pergerakan harga minyak Brent yang bertengger di atas US$105 per barel
  • Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed yang naik menjadi 20,5%
  • Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di 5,22%
  • Posisi rupiah di pasar NDF Rp17.952/US$
  • Pergerakan mata uang Asia yang masih beragam

Pasar masih akan mencermati data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik yang mempengaruhi harga minyak. Kombinasi tekanan eksternal dan ekspektasi kebijakan moneter menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.

Reporter: Yasir
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top