Pencarian

Kunyit Jadi Solusi Pengawet Alami Ikan Beloso Temuan Peneliti UNG

Rabu, 06 Mei 2026 • 14:29:37 WIB
Kunyit Jadi Solusi Pengawet Alami Ikan Beloso Temuan Peneliti UNG
Peneliti UNG menguji efektivitas kunyit sebagai pengawet alami ikan beloso.

GORONTALO — Temuan terbaru dari tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap potensi kunyit sebagai bahan pengawet alami untuk hasil perikanan. Penelitian ini membuktikan bahwa larutan kunyit mampu menjaga mutu ikan beloso tanpa bergantung sepenuhnya pada penggunaan es batu atau bahan kimia berbahaya.

Konsentrasi 30 Persen Beri Hasil Optimal untuk Kesegaran Ikan

Riset yang dipimpin oleh Rita Marsuci Harmain ini melakukan uji coba terhadap ikan beloso (Glossogobius sp.) dengan berbagai tingkat konsentrasi larutan kunyit. Hasilnya, kombinasi konsentrasi 30 persen dengan waktu perendaman selama 24 jam memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan kualitas ikan.

Pada titik optimal tersebut, ikan tercatat memiliki nilai pH 5,72. Selain itu, jumlah bakteri atau Angka Lempeng Total (ALT) berada di angka 3,2×10 koloni per gram. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi ikan masih berada dalam batas aman dan memenuhi standar mutu pangan untuk kategori ikan segar.

Bagaimana Senyawa Aktif Kunyit Menghambat Pembusukan Ikan?

Efektivitas kunyit (Curcuma domestica Val.) terletak pada kandungan senyawa aktif fenol yang bersifat antibakteri. Senyawa ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang biasanya mempercepat proses pembusukan pada tubuh ikan segera setelah ditangkap.

Penurunan nilai pH selama proses perendaman menjadi indikator penting dalam proses ini. Kondisi asam yang dihasilkan larutan kunyit menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi perkembangan bakteri, sehingga tekstur, bau, dan keamanan konsumsi ikan tetap terjaga lebih lama dibandingkan tanpa penanganan khusus.

Solusi Murah bagi Nelayan dan Pelaku Usaha Kecil

Penggunaan kunyit dianggap jauh lebih praktis dibandingkan metode pendinginan konvensional, terutama untuk proses distribusi di wilayah yang minim fasilitas pendingin. Inovasi ini memberikan peluang bagi pelaku usaha perikanan skala kecil untuk menekan biaya operasional sekaligus mendukung konsep pengolahan pangan yang berkelanjutan.

Meski menunjukkan hasil positif, peneliti mengingatkan bahwa ketepatan waktu perendaman sangat krusial. Perendaman yang melewati batas optimal justru berisiko meningkatkan kembali jumlah bakteri, sehingga penerapan di lapangan harus mengikuti prosedur konsentrasi dan durasi yang tepat.

Ke depan, tim peneliti merekomendasikan adanya kajian lanjutan yang mencakup parameter Total Volatile Base (TVB) untuk memperkuat data kesegaran ikan secara kimiawi. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat standarisasi penggunaan bahan alami dalam industri pengolahan hasil laut di Gorontalo.

Bagikan
Sumber: prosesnews.id

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks