Senin (15/4) di San Jose, California, Apple memanaskan panggung WWDC 2026 dengan pernyataan politik yang tidak biasa. Craig Federighi, Senior Vice President Software Engineering, melontarkan kritik tajam terhadap tren industri AI yang menurutnya "terlalu nafsu" mengejar gebrakan tanpa mempertimbangkan sisi kemanusiaan.
"AI adalah teknologi yang luar biasa kuat. Tapi beberapa pihak tampak berlomba maju, seolah mengejar AI demi AI itu sendiri, tanpa peduli pada manusia—kita semua—yang seharusnya dilayani," ujar Federighi di atas panggung.
Sindiran Langsung ke OpenAI, Google, dan Meta
Pernyataan itu jelas diarahkan ke tiga raksasa yang paling agresif merilis produk AI dalam dua tahun terakhir. OpenAI dengan GPT-4o, Google dengan Gemini yang disuntikkan ke semua lini produk, dan Meta dengan Llama 3 yang open source. Federighi menilai produk-produk itu seperti "chatbot yang ditempelkan" tanpa integrasi mendalam dengan data personal pengguna.
Ironisnya, Apple sendiri baru pulih dari keterpurukan AI internal. Selama hampir dua tahun, perusahaan kesulitan menghadirkan Siri yang benar-benar lebih pintar. Puncaknya, awal 2026, Apple memecat John Giannandrea—kepala AI dan machine learning—setelah restrukturisasi tim yang berlarut-larut.
Siri AI: Bukan Sekadar Chatbot Tempelan
Di tengah kritik itu, Apple justru memperkenalkan Siri AI yang dibangun dari nol. Asisten digital ini ditenagai oleh Apple Intelligence generasi terbaru dengan arsitektur yang disebut Federighi sebagai "sistem orkestrator baru" yang menyatukan kemampuan di seluruh perangkat Apple.
Apple mengklaim telah menciptakan versi kedua dari Apple Foundation Models yang tidak hanya bisa memahami ucapan, tapi juga membaca teks dan gambar. Federighi memastikan Siri baru bukanlah chatbot yang ditempelkan ke sistem lama. "Ini adalah alat percakapan yang terintegrasi, yang Anda gunakan saat dibutuhkan," tegasnya.
Federighi juga menekankan bahwa privasi tetap menjadi harga mati. Data pengguna hanya akan digunakan untuk mengeksekusi perintah—tidak untuk melatih model AI di server cloud seperti yang dilakukan kompetitor. "Non-negotiable," katanya.
Pendekatan Hati-Hati vs Kecepatan Pasar
Pertarungan Apple dengan kompetitor AI sebenarnya sudah berlangsung lama. Google dan OpenAI sudah memiliki asisten suara yang bisa bernalar multimodal sejak 2024, sementara Apple baru bisa menghadirkan fitur serupa di pertengahan 2026. Namun Federighi membalikkan narasi: kecepatan bukan segalanya jika mengorbankan kepercayaan pengguna.
Bagi pengguna Indonesia, perbedaan pendekatan ini bisa terasa dalam hal privasi data. Sementara pengguna Google Assistant atau ChatGPT harus rela data percakapan mereka diproses di server pusat, Apple menjanjikan pemrosesan di perangkat (on-device) untuk sebagian besar tugas Siri AI. Namun, belum ada kepastian kapan Siri AI akan tersedia dalam bahasa Indonesia atau fitur apa yang akan dibatasi untuk pasar Asia Tenggara.
WWDC 2026 membuktikan bahwa Apple tidak lagi sekadar menjadi pengikut dalam perlombaan AI. Dengan Siri yang dibangun ulang, mereka mengambil posisi sebagai "pengawal etika" di tengah hiruk-pikuk industri yang terus berpacu tanpa rem.