GORONTALO — Program Literasi Rupiah Menyapa Pelosok Negeri (POLOPALO) 2026 menyambangi siswa SD Negeri 7 Bone di Desa Ilohuuwa, Kabupaten Bone Bolango. Pelaksanaan keempat ini menutup rangkaian kegiatan BI Gorontalo sepanjang tahun.
Sepanjang 2026, POLOPALO telah menyambangi Desa Olibu, Desa Dudepo, Desa Pangahu, hingga Desa Ilohuuwa. BI Gorontalo juga menggelar edukasi serupa di Kecamatan Pinogu.
Kolaborasi dengan komunitas 1.000 Guru Gorontalo dipilih karena dinilai punya jangkauan langsung ke sekolah-sekolah di wilayah terpencil.
Mengapa BI Gorontalo Menyasar Sekolah di Pelosok
Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, M. Andi Destriyan H.B Alydrus, menyebut edukasi rupiah sebagai bagian dari kewajiban bank sentral terhadap seluruh lapisan masyarakat.
"Bank Indonesia memiliki kewajiban untuk mengedukasi seluruh masyarakat. Bukan hanya yang berada di kota, tetapi juga masyarakat di pelosok yang aksesnya lebih menantang," ujarnya.
Ia menjelaskan kolaborasi dengan 1.000 Guru menjadi salah satu strategi menjangkau sekolah di daerah dengan keterbatasan akses.
"Program ini kita lahirkan bersama 1.000 Guru karena memiliki kesamaan tujuan, yakni menyasar adik-adik di sekolah yang berada di pelosok," jelasnya.
Cara Mengenali Uang Asli dan Prinsip 5 Jangan
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan konsep Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Materi disampaikan lewat pendekatan interaktif agar mudah dipahami anak-anak.
Siswa juga dilatih mengenali keaslian uang melalui metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang. Cara ini menjadi bekal praktis untuk membedakan uang asli dari palsu.
Selain itu, BI Gorontalo mengingatkan siswa menjaga kondisi fisik uang rupiah lewat prinsip 5 Jangan. Yakni tidak melipat, mencoret, meremas, membasahi, maupun menggunakan stapler pada uang.
Respons Kepala Sekolah atas Kunjungan BI Gorontalo
Kepala SD Negeri 7 Bone, Hantiman Ruchban, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan POLOPALO di sekolahnya.
"Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan perhatian kepada sekolah kami yang berada di pelosok. Ini menjadi motivasi bagi kami sebagai pengajar agar anak-anak kami tetap mampu berkembang dan beradaptasi," tambahnya.
M. Andi Destriyan berharap kegiatan tersebut membuka akses literasi rupiah bagi masyarakat yang selama ini belum tersentuh program edukasi serupa.
"Semoga program ini bisa memberikan manfaat dan edukasi tentang cinta, bangga, dan paham rupiah ini ke berbagai lapisan masyarakat yang mungkin belum tersentuh," katanya.