GORONTALO — Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan USD1,80 miliar pada Semester I 2026, naik 16,0% dari USD1,55 miliar di periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu terjadi saat maskapai global tertekan lonjakan harga avtur yang melonjak hingga 121% pada April 2026. Rugi bersih Garuda menyusut 23,2% menjadi USD113,0 juta dari sebelumnya USD147,1 juta.
Laporan keuangan Semester I 2026 memperlihatkan Garuda Indonesia Group mencatat perbaikan di hampir seluruh lini. Selain pendapatan, EBIT perseroan naik 12,7% menjadi USD74,0 juta, sementara EBITDA tumbuh 5,8% ke USD431,6 juta. Angka-angka itu diraih di tengah tekanan biaya bahan bakar yang menerpa hampir seluruh maskapai dunia.
Harga Avtur Global Melonjak, Maskapai Besar Dunia Terpukul
Tekanan yang dihadapi industri penerbangan bersumber dari kenaikan harga jet fuel dunia. International Air Transport Association (IATA) mencatat harga avtur global pada puncaknya di April 2026 naik sekitar 121% dibanding April 2025. Sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga rata-rata jet fuel mencapai USD152 per barel, hampir 70% lebih tinggi dari rata-rata 2025.
Pemicunya adalah konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 dan mengganggu pasokan energi dunia. Dampaknya terlihat pada kinerja maskapai besar. Singapore Airlines masih mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi operating profit-nya tertekan tajam. Lufthansa Group juga mencatat revenue yang tetap tumbuh, namun adjusted EBIT berbalik negatif.
Avtur Serap Lebih dari Separuh Biaya Maskapai
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyoroti besarnya porsi avtur dalam struktur biaya maskapai. Menurutnya, bahan bakar dapat menyumbang lebih dari separuh total biaya operasional, sementara sekitar 90% komponen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing.
"Kombinasi harga bahan bakar dan pelemahan rupiah membuat ruang maskapai menjaga margin menjadi semakin sempit," kata Gerry, Kamis (1/10/2026).
Tekanan serupa juga dirasakan industri penerbangan nasional. Ketua APJAPI Alvin Lie menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai "masa-masa kritis" bagi maskapai. Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season.
Rugi Bersih Menyusut, EBITDA Tetap Tumbuh
Di tengah kondisi tersebut, Garuda mencatat rugi bersih USD113,0 juta pada Semester I 2026, menyusut 23,2% dari USD147,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan ini menunjukkan perseroan mampu menekan beban meski harga avtur melonjak.
Pendapatan yang tumbuh 16,0% menjadi USD1,80 miliar dari USD1,55 miliar turut menopang kinerja. EBITDA yang naik 5,8% ke USD431,6 juta dan EBIT yang tumbuh 12,7% ke USD74,0 juta memperlihatkan operasional Garuda masih menghasilkan arus kas positif di level operasi.
Bagi investor, kombinasi pendapatan naik dan rugi menyusut menjadi sinyal bahwa restrukturisasi yang dijalankan perseroan mulai membuahkan hasil. Namun tekanan eksternal dari harga avtur dan nilai tukar rupiah masih menjadi risiko utama yang perlu dicermati pada semester kedua.