Pencarian

Rupiah Berpotensi Melemah di Tengah Tekanan Global, BI Intensif Intervensi

Jumat, 02 Oktober 2026 • 08:35:31 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah di Tengah Tekanan Global, BI Intensif Intervensi
Rupiah berpotensi melemah seiring tekanan eksternal yang membebani mata uang Asia.

GORONTALO — Rupiah berpotensi kembali melemah di pasar spot pada perdagangan hari ini setelah tekanan eksternal membebani mata uang Asia, termasuk won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Bank Indonesia disebut kian intensif melakukan intervensi guna menahan volatilitas mata uang Garuda. Pergerakan rupiah kemarin sudah mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah bergerak di rentang Rp17.974-Rp17.986 per dolar AS. Pergerakan di pasar NDF ini menjadi indikasi awal arah rupiah di pasar spot sebelum sesi perdagangan dibuka.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp17.950 per dolar AS. Pelemahan terjadi usai rilis data inflasi yang meninggi, sehingga level Rp18.000 per dolar AS semakin dekat untuk kembali diuji.

Harga Minyak dan Indeks Dolar Jadi Pemicu Utama

Dari sisi eksternal, tekanan datang dari harga minyak mentah Brent yang kembali naik ke US$102,6 per barel, setelah sebelumnya melemah 0,22%. Kenaikan harga minyak ini turut membebani mata uang negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.

Dolar Amerika Serikat juga menguat. Indeks dolar terkerek ke level 102 dengan kenaikan 0,64% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, yield US Treasury masih bertahan di 5,2%, meski turun 3,5 basis poin (bps) dari posisi 5,3% yang merupakan tertinggi sejak 2003.

Mata Uang Asia Tertekan, Won Korea Paling Tajam

Pagi ini, sebagian besar mata uang kawasan berada dalam posisi tertekan. Won Korea Selatan melemah paling tajam 0,33%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong.

Pelemahan serentak di kawasan Asia ini mencerminkan sentimen risk-off yang dipicu oleh kombinasi penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor cenderung memindahkan dana ke aset-aset berdenominasi dolar yang dinilai lebih aman.

Intervensi BI Menahan Volatilitas

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia disebut semakin intensif melakukan intervensi untuk menahan volatilitas rupiah. Langkah ini dilakukan melalui pasar spot, pasar NDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Strategi triple intervention yang dijalankan BI bertujuan memastikan likuiditas valas tetap memadai dan menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah. Intervensi ini juga menjadi sinyal bahwa bank sentral tidak akan membiarkan rupiah bergerak terlalu liar.

Sentimen Global Masih Jadi Penentu Arah Rupiah

Ke depan, arah rupiah masih akan sangat bergantung pada perkembangan eksternal. Harga minyak mentah, pergerakan indeks dolar, dan yield US Treasury menjadi tiga variabel utama yang perlu dicermati pelaku pasar.

Bagi investor, pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi menekan kinerja emiten dengan utang berdenominasi dolar AS, seperti perusahaan penerbangan dan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas bisa mendapat angin segar dari depresiasi mata uang.

Pelaku pasar juga akan mencermati langkah lanjutan BI, termasuk kemungkinan penyesuaian suku bunga acuan jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama bank sentral di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Follow gorontalo24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks